Surat Buat Kartini 2021

Dyah Narang-Huth sedang membacakan suratnya.

… endapan di hati, pikiran dialiri, terwujud barisan kata ini…

Dua puluh tahun yang lalu kutulis surat serupa, kutujukan kepada Ibu
Kartini. Sepucuk surat yang hanya jadi barisan kata penuhi arsip, tak pernah
kukirim tapi tak pernah juga hilang dari ingatan. Hari ini kuteringat kembali,
bukan hanya karena bulan April ini Ibu Kartini berulang tahun, tetapi juga
karena aku teringat obrolan dengan Mbakyuku yang juga ulang tahunnya
dua hari setelah hari yang disebut hari Kartini.

Kini kuingin bersurat pada perempuan Indonesia lain, mereka yang
juga bersyukur bahwa wanita Indonesia sekarang tidak hanya kenal bumbu
dapur, tetapi juga kenal obeng dan palu. Mbakyuku saja pekerjaannya
berkecimpung di bidang teknik buat pesawat udara, dan kuingat juga bahwa
Indonesia lebih dulu punya presiden perempuan dibanding negeri Jerman,
negeri rantauku yang sejak dipimpin 16 tahun lamanya oleh kanselir
perempuan Angela Merkel.

Aku wanita Indonesia biasa yang beruntung karena bisa menikmati
bangku pendidikan tinggi seperti banyak para perempuan Indonesia lainnya.
Bangga akan situasi kini tapi juga cemas kalau dengar istilah “peran ganda
wanita“ yang sering menjadi pujian yang keras digemakan biasanya di bulan
April.

Cemas?

Ya, cemas, pasalnya aku melihat di balik pujian ada
legitimasi “penindasan”. Kaum perempuan berperan ganda dengan: bekerja
mencari nafkah dan bekerja urus rumah tangga. Sebentar itu para laki-laki
cukup ambil peran bekerja mencari nafkah saja, bukan rahasia bahwa
kebanyakan mereka melimpahkan tugas rumah tangga kepada perempuan.

Aku yakin
perjuangan Ibu Kartini dulu juga mengarah padapersamaan hak dalam segala hal.
Hanya buaian peran ganda membuat
kaum wanita Indonesia terlena.

Dalam diskusi panjang kami, aku dan Mbakyuku sepakat, bahwa kami melihat kenyataan yang sama: Di Indonesia setinggi apapun pendidikannya, dalam hal urusan rumah tangga selalu merajakan kaum pria, membiarkan ketidaksamaan hak dan kewajiban terus berjalan dari generasi ke generasi. Entah bagaimana cara bisa kumulai perjuangan menanggalkan pikiran lama yang melegitimasi suami alias para lelaki bebas dari pekerjaan rumah tangga.

Aku hanya bisa menulis surat ini, surat yang tidak sebanding dengan kumpulan surat-suratmu Habis Gelap Terbitlah Terang, tidak sebanding…tak seujung kukupun Tapi kuingin jelaskan kepada kaum perempuan Indonesia, sebuah perubahan ke arah persamaan hak dan kewajiban dalam segala hal, hanya dapat terjadi jika kita, kaum wanita, menginginkan dan berjuang untuk itu.

Kemewahan negeri rantau akan persamaan hak dan kewajiban dalam rumah tangga kunikmati. Tak ada pekerjaan berlabel pekerjaan perempuan: Memasak, mencuci, berbelanja, mengurus anak dan masih banyak lagi. Dan kutahu kemewahan ini adalah hadiah dari perjuangan kaum perempuan negeri Jerman ini. Para ibu, para perempuan berjuang dan mendidik kaum lelakinya untuk juga mengerjakan tugas rumah tangga.

Aliran kata-kataku ini
untuk para perempuan di hari Kartini,
yang berkebaya mau pun yang pakai rok mini,
untuk sama-sama didik para lelaki,
peran ganda jangan hanya penuh puja puji,
dengan persamaan tugas rumah tanggalah kita penuhi.

Hamburg, April 2021,

Dyah Narang-Huth

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s