Konseling Virtual Kelompok: Kamu Tidak Sendirian

Ilustrasi.

Sekolah Virtual Perempuan (SVP) bekerjasama dengan Hypatia, Lembaga Kajian Psikologis Feminis di Prancis menggelar Konseling Virtual Kelompok untuk Korban/Penyintas Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) beberapa pekan (31/7) lalu. Acara ini diikuti oleh kelompok orang yang terbatas agar setiap peserta yang hadir dapat berbagi cerita dan inspirasi satu sama lain dalam menanggapi isu KDRT.

Ada pun sesi konseling virtual kelompok ini menjadi program baru yang ingin dijajaki SVP sebagai bagian dari memanfaatkan platforma teknologi mutakhir untuk menjangkau Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di mana saja  dan menginginkan bantuan psikologis. Untuk menjadi peserta dalam sesi konseling virtual kelompok ini, pertama peserta perlu mengisi lembar persetujuan elektronik yang berisikan kesepakatan demi kenyamanan bersama.

Anna dari perwakilan tim SVP menjelaskan bahwa konsep konseling virtual kelompok ini adalah bagian dari tindak lanjut Temu Virtual Bertema KDRT yang digelar satu bulan sebelumnya. Anna menambahkan bahwa acara ini bertujuan untuk membangun ruang aman dan nyaman untuk korban/penyintas KDRT berbagi cerita dan memperoleh dukungan sosial.

Tentunya peserta yang hadir pun dibebaskan untuk menggunakan kamera atau tanpa kamera. Selain itu, peserta pun boleh menggunakan nama samaran yang membuatnya nyaman bercerita.

Ada beberapa hal yang memang perlu diperhatikan dalam sesi konseling virtual kelompok ini. Anna meminta ijin kepada peserta untuk menjawab kesepakatan secara online sebelum acara dimulai. Selain itu, dia membebaskan peserta yang tidak ingin melanjutkan acara hingga selesai.

Anna dan tim yang bertugas memfasilitasi acara itu, menghargai partisipasi mereka yang tidak ingin bercerita atau pergi meninggalkan ruang konseling virtual tanpa pamit.

Anna menganggap peserta yang hadir bisa saja masih dalam kondisi trauma atau memang sedang berada dalam hubungan terancam dengan si pelaku sehingga ia bisa saja meninggalkan ruang konseling virtual. Selain itu, kita tidak bisa pungkiri bahwa teknologi bisa saja mempersulit orang untuk bisa terhubung seperti jaringan internet atau gagap teknologi misalnya.

Penyediaan ruang virtual kolektif seperti ini memang tidak mudah. Tidak hanya soal kerahasiaan data peserta dan jaminan cerita tidak akan bocor ke luar, namun perlu diperhatikan bahwa sesi konseling kelompok yang diadakan secara virtual ini mengangkat isu yang masih dianggap tabu dalam kultur masyarakat Indonesia.

Peserta tidak ingin diketahui identitasnya tetapi mereka ingin kita membantu masalah yang dihadapinya. Melalui konseling virtual kelompok ini, SVP ingin meyakinkan para korban/penyintas KDRT tidak merasa sendirian menghadapi masalahnya sebagaimana tema yang diusung, Kamu Tidak Sendiri. Apalagi peserta juga adalah WNI yang tinggal di luar negeri saat ini.

Di akhir acara, peserta menjawab bahwa sesi konseling ini sangat membantu mereka melewati krisis yang sedang dihadapi. Sebagian besar peserta berharap acara ini bisa digelar rutin oleh SVP.

Bagi Anda yang memiliki masalah KDRT dan memerlukan dukungan psikologis kelompok, silakan mengirimkan email ke kelasvirtual@sekolahvirtualperempuan.org.