Mantik Mantiki

Ilustrasi.

Apa jeleknya menjadi tidak merdeka?

Paling–paling hanya tidak berdaya karena kau masih serumah dengan orang–orang yang melakukan kekerasan padamu sedari kecil, dan tetap melakukannya hingga sekarang, tanpa pernah merasa peduli bahwa kau sebenarnya takut pada mereka, atau mungkin sebenarnya mereka tahu, hanya saja mereka tak mau tahu dan malah mengambil keuntungan dari rasa takutmu pada mereka.

Apa buruknya menjadi tidak merdeka?

Ah, paling–paling cuma lelah karena kau harus mengerjakan tugas matematika seperti yang biasa dikerjakan Pythagoras, saat sebenarnya kau lebih senang membaca dongeng dan ingin belajar membuat dongeng–dongeng seindah dongeng–dongeng yang kau baca, tapi kau tetap harus berkutat dengan semua rumus dan angka–angka itu karena itulah yang dilakukan ANI—ANak baIk—anak yang diinginkan orang tuamu.

Apa ruginya menjadi tidak merdeka?

Hmm, sebentar, paling–paling sekadar rasa muak menyengat tenggorokan saat semua tanggapanmu pada pertanyaan ”Kapan nikah?” atau ”Kapan punya anak?” terpaksa kau telan kembali karena kau tahu bahwa bagaimanapun juga kau tetap akan salah, meski kau tahu benar bahwa memilih untuk masih melajang sama normalnya dengan memilih makan rawon daripada soto, atau bahwa merawat anak–anak yatim piatu—atau bahkan anak kucing—adalah sama baiknya dengan merawat anak–anak yang tak pernah kau lahirkan sendiri.

Apa celakanya menjadi tidak merdeka?

Paling–paling semata–mata berusaha melepas segala beban yang ditimpakan ke bahumu dengan berbaring dan memejamkan mata, lalu, dalam keadaan terpejam itu kau bisa melihat kucingmu tiba–tiba berubah menjadi singa, dan seluruh kamarmu berubah menjadi ruang tidur seorang diva—atau bahkan putri mahkota—sementara kau sendiri menjadi KAU YANG SEHARUSNYA, kau yang memiliki kemampuan menggunakan senjata dari Dewi Durga, kecantikan dari Cleopatra, sihir yang mematikan dari Calonarang, serta keberanian dari Malala, otak brilian dari Hermione Granger, dan welas asih dari Asiya binti Muzahim; dan kaupun turun dari tempat tidurmu, memasang sepatu Cinderellamu yang terbuat dari plastik tembus pandang yang harganya tak sampai lima puluh ribu, memasang tajuk dari daun pohon dafnah di kepalamu, dan berjalan keluar, terus dan terus berjalan, meski kau dihadang orang—si pelaku kekerasan itu—yang tanpa tahu malu mencuri mainanmu, namun—dalam pembelaan dirinya yang menyedihkan—malah melempar sepeda ke mukamu hingga mulutmu sobek; kau terus berjalan meski ibumu akan mencemooh saat kau berkata kau akan ke perpustakaan, ke bagian dongeng anak–anak tepatnya, karena di sanalah seluruh keajaiban berada, tersembunyi di halaman–halaman yang dipenuhi kurcaci sekaligus raksasa, burung humay dan anjing–anjing dubuk, juga kesatria–kesatria dengan mata bercelak yang menyimpan pedang di balik rok panjang mereka; kau tetap berjalan, meski di luar sana beberapa Perempuan B3r4d4b menyambutmu dengan senyuman/cibiran mereka yang disertai kata–kata, ”Mau kemana? Sendirian saja, nih? Ah, maaf, lupa, kau tak punya suami, ya?

Apa sengsaranya menjadi tidak merdeka?

Paling–paling ini saja: kau tahu kau bisa melakukannya, sebab selama ini kau telah mengenakan celemekmu seperti Joan of Arc mengenakan baju zirahnya, kau memegang penamu seperti Hindun binti Utbah memegang pedangnya, kau merakit kereta kencanamu seperti Lilian Bland merakit pesawat terbangnya, sebab kau adalah Cut Nyak Dhien, kau adalah Anne Frank, kau adalah Dorothy Gale, dan bersama singamu yang kau beri nama Bukanpengecut, kau berjalan menapaki jalan setapakmu yang ditata dari bata emas, menuju—apalagi jika bukan—kemerdekaanmu. 

Jadi, apa susahnya menjadi tidak merdeka? Tidak ada. Karena sesungguhnya kau tidak pernah tidak merdeka.

Penulis: Metta Mevlana {ig: mett_am, fb: metta mevlana}, lahir dan tinggal di Surabaya, seorang penyintas penyakit autoimun yang proses kesembuhannya banyak dibantu dongeng dan cerita. Kini ia sedang giat belajar menulis fiksi, bekerja sebagai penulis lepas, dan bercita–cita memiliki rumah dengan kebun yang luas.