Bekerja Bukan Sekadar Datang dan Menyelesaikan Tugas

Ilustrasi.

Saat kuliah saya mengambil program studi Kimia Tekstil di Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung. Saya sempat dihantui ketakutan bila kelak karier saya hanya akan berakhir di laboratorium pencelupan kain di sebuah pabrik tekstil yang umumnya berada di pinggiran kota, tanpa ada kesempatan mengenal dunia luar.

Ternyata rasa ketakutan saya itu tidak pernah terjadi. Tentunya berkat doa orang tua dan juga persahabatan saya dengan teman masa kuliah.

Sejak kuliah sahabat saya sering mengungkapkan cita-citanya yang ingin bekerja di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta.

Perusahaan tersebut bergerak dalam bidang desain, pengembangan, manufaktur, pemasaran, penjualan alas kaki, pakaian, peralatan, aksesori dengan merek yang populer di dunia. Merek yang sering menjadi sponsor para atlet dan klub olahraga.  

Sahabat saya bernasib mujur. Baru saja skripsinya selesai, dia sudah diterima di perusahaan tersebut di divisi pakaian.

Selang beberapa minggu kemudian, sahabat saya memberi kabar jika perusahaan tempatnya bekerja masih membutuhkan fresh graduate untuk ditempatkan di divisi alas kaki. Saya diminta segera membuat CV dan menuju Jakarta untuk walk-in interview.

“Saya merekomendasikan kamu karena saya tahu kamu orangnya gemar membaca,” kata sahabat saya ketika kami berbincang setelah saya selesai interview.

Saya sempat mengerenyitkan dahi apa hubungannya gemar membaca dengan posisi yang ditawarkan? Kalau harus dapat berbahasa Inggris, mengoperasikan komputer, bekerja sama dalam tim, itu sudah persyaratan yang umum. Sedangkan gemar membaca?

Singkat cerita saya akhirnya diterima sebagai teknisi laboratorium di divisi alas kaki. Akhirnya saya memahami mengapa kegemaran saya membaca menjadi penilaian tersendiri saat interview.

Ternyata begitu banyak prosedur pengujian bahan baku untuk pembuatan sepatu yang harus saya pelajari dan pahami. Selain melakukan pengujian, saya harus dapat memutuskan kapan harus meloloskan atau menolak kualitas bahan baku yang dikirimkan oleh para mitra bisnis.

Perusahaan tempat saya bekerja tidak memiliki pabrik. Pabrik bahan baku dan pabrik barang jadi adalah mitra bisnis kami. Perusahaan kami yang mendesain, mengembangkan, menentukan negara tujuan ekspor dan memilih mitra bisnis.

Tulisan Made in Indonesia merujuk pada pabrik barang jadi yang berasal dari Indonesia. Namun jangan dianggap sebelah mata, karena spesifikasi produk wajib mengikuti persyaratan yang sudah ditentukan agar dapat diterima oleh pangsa pasar internasional.

Satu hal yang mengobati kejenuhan saya saat awal bekerja adalah lokasi kantor yang berada di salah satu gedung pencakar langit di kawasan segitiga emas, Jakarta. Maklum, saat itu usia saya masih belia. Masih terpesona dengan hingar bingar kehidupan kota metropolitan.   

Tanggal 18 Agustus 2000 saya pindah ke di divisi pakaian, di departemen yang khusus menangani Quality Management System (QMS).

Tugas pokok dan fungsi saya saat itu menjadi seorang auditor. Saya secara reguler mengevaluasi performa pabrik tekstil dan garmen yang menjadi mitra bisnis kami, baik dari segi sistem, proses serta produk yang dihasilkan.

Sesekali saya memberikan rekomendasi perbaikan-perbaikan di bidang QMS yang diperlukan oleh mitra bisnis. Sesekali pula saya harus melakukan studi banding ke pabrik-pabrik lain yang berada di negara-negara Asia. Kami harus mampu bekerjasama dan beradaptasi dengan cepat, karena regulasi negara-negara tujuan ekspor juga berubah begitu cepat.

Orang awam mungkin bertanya untuk apa sih QMS? Penjelasan yang paling sederhana adalah agar kualitas produk barang jadi dapat diterima karena telah memenuhi persyaratan yang diminta negara tujuan ekspor dan para customer. Jangan sampai ada produk yang telah sampai di gudang negara tertentu, akhirnya ditolak atau dibatalkan pembeliannya.

Bekerja bukan hanya sekedar datang ke kantor dan untuk menyelesaikan tugas saja. Seluruh karyawan dituntut oleh perusahaan untuk memahami dan menerapkan code of conduct (pedoman etika bisnis dan etika kerja) yang wajib diterapkan termasuk oleh para mitra bisnis.

Keseriusan perusahaan menjunjung tinggi code of conduct salah satunya dengan meminta semua pihak menindak tegas para pelaku pelecehan seksual baik verbal ataupun fisik, termasuk bagi para pelaku kekerasan verbal.

Tiba-tiba saya mengenang masa kuliah tingkat akhir ketika sedang kerja praktik di salah satu pabrik tekstil. Hampir setiap saat sang manajer produksi yang terlihat berwibawa di lapangan, tetapi bila di ruang meeting memiliki tangan yang begitu “ramah” melakukan pelecehan kepada beberapa karyawan perempuan yang berparas cantik.

Seandainya saat itu saya sudah bekerja dan pabrik tekstil tersebut menjadi salah satu mitra bisnis perusahaan tempat saya bekerja, saya pasti akan melaporkan peristiwa tersebut kepada pimpinan saya.

Untuk kasus serupa yang pernah terjadi di beberapa mitra bisnis, hampir 100% berujung menamatkan karier para oknum pimpinan yang tangan atau ucapannya “ramah” terutama terhadap karyawan perempuan.

Penulis: Febriyanti Dwi Safitri adalah alumni Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung program studi Kimia Tekstil. Selama 10 tahun mengantongi Certified Quality Auditor dari American Society for Quality. Dia pernah berkarier di perusahaan multinasional selama hampir 18 tahun, lalu selama 2 tahun berkiprah di bisnis klinik kecantikan. Kini ia menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga dengan mengisi waktu luangnya melakukan trading saham dan mengikuti berbagai kelas kepenulisan. Ia telah menghasilkan beberapa buku antologi sejak awal tahun 2020.