Merdeka di Ruang Virtual, Terbelenggu di Ruang Nyata?

Ilustrasi.

Literasi digital menjadi keniscayaan saat ini. Sayangnya, warganet Indonesia belum melek digital sepenuhnya, meski sudah menenteng smartphone namun masih tertatih sebagai smart user.

Studi yang dilakukan oleh Microsoft (Civility, Safety, and Interactions Online – 2020) terkait Indeks Kesopanan Digital menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-29 dari 32 wilayah dan yang paling rendah di kawasan Asia Tenggara.

Faktor yang mempengaruhi hal ini adalah banyaknya hoaks, penipuan, ujaran kebencian dan diskriminasi di ruang digital. Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah, mengapa menjadi begitu barbar di ruang virtual?

Gegar Budaya?

Dalam perubahan selalu ada tahapan. Siklus perubahan menurut Virginia Satir seorang ahli terapi menyatakan ada beberapa tahapan sejak adanya pencetus perubahan terjadi, yaitu tahap resisten, chaos, terpuruk di titik rendah, mulai naik lagi dengan adanya transformasi ide, integrasi sumber daya, sampai kemudian ke arah new status quo. Hal ini mesti ditempuh, dengan sebuah pertanyaan, mau berapa lama kita berada di tahapan tersebut.

Apakah memang warganet masih berada dalam tahap chaos berkepanjangan, mengalami shock dengan transformasi digital yang pesat apalagi di saat pandemi ini, terjadi gegar budaya?

Berbagai tantangan berbudaya digital dicatat oleh Japelidi (Jaringan Penggiat Literasi Digital) yaitu mengaburnya wawasan kebangsaan, menipisnya kesopanan dan kesantunan, menghilangnya budaya Indonesia, media digital menjadi panggung budaya asing, minimnya pemahaman akan hak-hak digital, kebebasan berekspresi yang kebablasan, berkurangnya toleransi dan penghargaan pada perbedaan, menghilangnya batas-batas privasi, pelanggaran hak cipta dan karya intelektual.

Melek Digital

Terkait literasi digital, Indonesia berada di peringkat 56 dari 63 negara, hal ini tentu mengenaskan. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah menyelenggarakan edukasi secara masif melalui Gerakan Nasional Literasi Digital dengan target peserta lima puluh juta orang sampai tahun 2024. Acara dilaksanakan secara daring sejak Juni 2021 serentak di 34 propinsi 514 kabupaten/kota.

Penulis menjadi salah satu narasumber dalam pilar etika dan budaya digital. Acara yang digelar oleh Kominfo dan Siberkreasi ini menggandeng berbagai organisasi penggiat literasi digital, diantaranya MAFINDO (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) di mana penulis sebagai bagian dari komite edukasi.

Melek digital ini menggunakan pendekatan empat pilar yaitu cakap (digital skill), berbudaya (digital culture), etis (digital ethic) dan aman (digital safety).

Acara ini mendapat sambutan positif dari warganet, apalagi didukung oleh kepala daerah setempat, dengan melibatkan pula KOL (Key Opinion Leader) yaitu figur publik yang memiliki banyak pengikut di media digital masing-masing.

Setiap hari ada tema berbeda sehingga warganet bisa mengikuti lebih dari sekali dengan berbagai perspektif baru dan segar.

Merdeka Dari Hoaks

Perempuan rentan menyebarkan hoaks saat emosi terusik isu yang terkait keberadaannya, kesehatan, dan kepedulian pada keluarga serta orang-orang yang dia sayangi. Kata Anita Wahid, presidium Mafindo.

Kampanye, edukasi, advokasi terus diupayakan agar perempuan merdeka dari hoaks, diantaranya yang dilakukan Mafindo dan berkolaborasi dengan organisasi lain diantaranya program Wanita Cerdas Tangkal Hoaks atau Tangkas, dan Perempuan Periksa Fakta agar perempuan mampu periksa fakta mandiri.

Berpikir Kritis dan Etis

Tsunami informasi membutuhkan filter untuk menyaring informasi negatif. Kritis dan Etis adalah kata kunci untuk menjawab hal ini. Empat prinsip etis adalah kesadaran, integritas, tanggungjawab dan kebajikan.

Prinsip kesadaran mengingatkan kita untuk berpikir dan mengelola emosi saat mengonsumsi dan memproduksi informasi. Mindfulness, eling lan Waspodo– demikian petuah leluhur- ojo kemrungsung atau terburu-buru menelan informasi tanpa mencerna lebih dahulu.

Selalu ingat bahwa saat emosi terprovokasi -baik yang menyebabkan emosi negatif (seperti takut, cemas, tersinggung, marah) maupun emosi positif seperti girang mendapatkan undian- maka filter berpikir kritis tertembus sehingga rentan terpapar berita hoaks, ujaran kebencian, maupun penipuan.

Periksa fakta lebih dahulu dengan cara mandiri, atau dengan mencari berita pembanding dengan lateral reading, maupun  dari hasil cek fakta dari sumber terpercaya (misalnya dari s.id/Mafindo). Perlunya menyadari bahwa apa yang dibagikan di ruang virtual menjadi jejak digital yang melekat yang menunjukkan reputasi bahkan memiliki konsekuensi hukum.

Perempuan Berdaya dan Bahagia

Perempuan dengan segala beban ganda perlu berakrobat dalam berbagai peran yang membutuhkan kesadaran lebih terutama saat bermedia digital.

Kelola emosi serta longgarkan segala belenggu yang memasung kemerdekaan di dunia nyata bisa menyelamatkan kita dari dampak negatif di ruang virtual.

Fokus pada pengembangan diri dan memberikan manfaat mendorong kita untuk justru menggunakan media digital sebagai etalase karya positif, inspiratif dan berkontribusi untuk sesama.

Bagaimana menurut anda?

Penulis: Vivid Sambas, seorang ibu dengan tiga anak, berprofesi sebagai life coach dan hipnoterapis klinis. Dia mewujudkan mimpi Indonesia merdeka dari hoaks dengan bergabung sebagai relawan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) di komite Edukasi. Dia juga Penulis buku Single Parent Move On dan lima buku antologi fiksi dan nonfiksi. Vivid merupakan seorang pembelajar dan pejalan kehidupan. IG vividsambas. FB page Single Parent Move On.