Ayun Langkahku

Hobi naik gunung telah membawaku menjadi  Pramuwisata atau Tour Guide. Pekerjaan yang tentu saja tidak disetujui orang tuaku. Mereka menginginkanku bekerja di kantor sesuai jurusan kuliahku − ekonomi akuntansi − dan mendapatkan gaji bulanan. Namun aku tidak suka bekerja kantoran.

Baiklah, aku akan berkisah pada perjalananku sebagai Pramuwisata. Profesi yang kupilih sejak tahun 1988.  Di awal, aku menjadi Pramuwisata untuk jenis wisata yang umum ditawarkan Travel. Lalu seperti ada yang mengarahkan, langkahku mengayun ke wisata minat khusus.

Bermula dari tugas yang diberikan Aneka Kartika Tour & Travel pada Desember 1991 yakni menemani fotografer hitam putih kelas dunia asal Brazil, Sebastiao Ribeiro Salgado, memotret di Kawah Ijen. Adjie Wahjono mengantarku menemui Salgado di tempatnya menginap. Setelah Salgado menjelaskan tujuannya memotret, kami bertiga mendiskusikan logistik selama 10 hari perjalanan.

Dari Surabaya diantar sopir menuju Desa Tamansari, Licin, Banyuwangi. Kami menginap semalam di rumah kediaman teman Pak Welly, pemilik Aneka Kartika T&T. Kami mengoordinasikan perjalanan dengan dua orang porter yang bekerja sebagai penambang belerang. Mereka membawakan persediaan bahan makanan, perlengkapan masak dan makan minum, sleeping bag, serta perlengkapan pribadi.

Pada tahun itu belum ada jalan untuk mobil hingga Paltuding. Dari rumah kami menginap, naik mobil sebentar hingga Dusun Jambu, lalu berjalan kaki melewati jalan setapak di hutan hingga Paltuding. Selanjutnya kami melewati jalan yang seperti keadaan saat ini hingga di Pondok Bunder, tempat kami menginap.

Setiap jam 4 pagi, Salgado naik ke puncak dan turun ke kawah. Jam 6 aku menyusul ke kawah  ditemani satu porter untuk membawakan makanan. Ia memotret kegiatan para penambang diantara kepulan asap yang baunya sangat menyengat, hingga sekitar jam 11. Aku selalu berada di dekatnya, membantu berkomunikasi, dan sesekali menjadi tripot – kepalaku sering menjadi dudukan kameranya…haha…

Saat kami minum kopi setelah makan malam bersama penambang di pawon pondok mereka, yang berdekatan dengan Pondok Bunder, Salgado berkata “ Yoni, saat pertama melihatmu aku ragu. Apa kamu mampu menemaniku motret di Kawah Ijen karena kamu perempuan dan badanmu kecil. Ketika kamu menjelaskan logistik yang diperlukan selama hidup di gunung, aku percaya padamu. Terlebih dalam beberapa hari menemaniku, kamu telah mengoordinasikan semuanya dengan sangat baik.”

Penilaian Salgado, memantikku membuat program Trekking di Gunung Semeru dan Bromo. Sekitar dua tahun kemudian, aku utarakan pada Pak Welly. Pesannya hanya satu. Trekking ini bukan lagi hanya menjadi hobimu, tetapi pekerjaanmu.

Aku ajak satu teman sesama anggota di klub Pecinta Alam MGM (Maharanee Gipsy&Mountaineers), membantu trekking ini. Aku memilihnya karena ia punya banyak pengalaman pendakian. Tahun 1995, tibalah tamu pertama dari Prancis sebanyak 5 orang. Seminggu sebelum tamu tiba, temanku mendapatkan pekerjaan di luar pulau. Tentu saja aku bingung. Aku harus melakukannya sendirian.

Dibantu satu teman lainnya di MGM, kami mengantar tamu pertama ke Gunung Semeru. Di basecamp di Kalimati (2.700 mdpl) aku mendirikan tenda dan memasak. Kami juga mengantar hingga ke Puncak (3.676 mdpl). Ternyata pekerjaan ini sangat berat. Sebenarnya ini pekerjaan laki-laki. Namun aku telah memulai dan pantang menyerah.

Suatu saat aku bertemu Kepala Dinas Pariwisata Malang, Pak Sunardi, teman ayahku. Aku ceritakan trekking Semeru yang kujalankan. Seorang Pramuwisata yang tinggal di Malang, teman di organisai profesi HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) – Tohari – dititipkan padaku untuk bergabung di tim trekking Semeru.

Tahun kedua, Tohari bersama dua temannya dari klub Pecinta Alam STIBA Malang membantuku. Tahun ketiga, Pak Welly meminta Tohari menjadi staf di kantor. Aku sendirian lagi. Supaya trekking Semeru tetap berjalan, aku minta Tohari mengenalkan teman lainnya. Aku pun meminta beberapa teman dari MGM. Tahun keempat banyak teman yang tertarik bergabung.

Tim trekking selain aku, semuanya laki-laki terdiri atas Pemandu (Pramuwisata) Gunung, Koki, dan Porter. Porter dari Desa Ranupane, desa di kaki Gunung Semeru. Aku mengikuti perjalanan hingga  basecamp di Kalimati. Aku membantu teman-teman dan memastikan semuanya sesuai perencanaan.

Aku mendampingi Trekking di Gunung Semeru hingga tahun 2005. Setelah sepuluh tahun, alunan langkah membawaku kembali pada jenis tour semula yang kujalani. Sebuah penghargaan telah kudapatkan dari travel di UK untuk Exellent Guiding of Audley Clients, tahun 2016. Penyerahan penghargaan ini dilakukan di Yangoon, Myanmar.

Wisatawan mancanegara dari beberapa grup yang kutemani, menyampaikan keterkejutannya. Mengapa aku yang memakai hijab dapat bersikap dan berbicara dengan merdeka.

Ganti aku yang terkejut.

Apa yang aneh? Lalu mereka memintaku menjelaskan peran perempuan Indonesia di kehidupannya, termasuk tentu saja aku dan kehidupanku.

Aku semakin bangga menjadi perempuan Indonesia yang merdeka.

Penulis: Yoni Astuti {FB: Yoni Astuti, IG: yoniastutii}. Pramuwisata yang tergabung di DPC HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia) Surabaya dan DPD ITMA (Indonesian Tour Leader Muslem Association) Jawa Timur. Dia telah menulis tiga buku antologi fiksi dan tiga buku antologi nonfiksi. Kini tergabung di PERLIMA, Komunitas Perempuan Penulis Padma.