Tengkorak itu Seksi

Beberapa tahun yang lalu, kami mengalami masa di mana anak-anak mengalami diskriminasi dari pihak lain. Pihak lain yang saya maksud mungkin tidak mengenal dengan baik sehingga menempelkan label yang kurang baik. Hal itu terekspresi dari sikap mereka ketika melihat penampilan anak-anak.

“Assalamu’alaikum Bu, aku sudah pulang.”

Aku dengar salam putraku setelah beberapa hari tidak pulang karena liputan ke luar kota. Saya merasa ada yang aneh dari getar suaranya yang sempat tertangkap, seperti ada yang mengganggu pikirannya. Sambil menjawab salam, saya keluar dari kamar untuk melihat dan memastikan dia baik-baik saja.

Setelah membersihkan diri dan istirahat, dia menghampiri saya di gazebo belakang rumah tempat favorit kami. Dia bercerita tentang pengalaman yang membuatnya kaget dan sedih. Saya selalu berpesan pada anak-anak, sesibuk apapun, jangan pernah meninggalkan shalat. Begitu mendengar suara adzan berkumandang, hentikan sejenak kegiatan kita dan fokus untuk berdialog dengan Sang Pemilik Kehidupan ini melalui shalat.

Alhamdulillah pesan tersebut ditaati. Bersama beberapa temannya yang muslim, dia beranjak mencari masjid terdekat dan ikut shalat berjamaah. Selesai shalat, dia pun mengikuti para jamaah menghampiri lelaki tua mungkin orang yang ditokohkan, sebut saja Kakek untuk bersalaman. Ketika sampai pada gilirannya, betapa kaget karena uluran tangannya dibiarkan berlalu. Artinya Kakek tidak bersedia bersalaman dengannya. 

Mulailah kami berdiskusi dan menemukan kemungkinan penyebabnya karena waktu itu dia mengenakan kaos hitam bergambar tengkorak yang sedang ngetren.

Ada tanda tanya besar dalam benak saya, apa yang Kakek pikirkan tentang gambar tengkorak di kaos anak muda yang baru saja shalat dan ingin menghormatinya seperti jamaah masjid lainnya?

Apakah Kakek menganggap anak muda yang mengenakan kaos bergambar tengkorak identik dengan kelompok anak muda yang tidak baik?

Apakah perbedaan mengganggu kenyamanannya, sehingga harus menunjukkan ketidaksukaannya di ruang publik, atau apa? Entahlah…

Pengalaman lain, dalam suatu perjumpaan dengan seorang teman lama, dia mengkritisi penampilan putri saya yang berjilbab namun menggunakan aksesoris tengkorak, seperti memakai gelang bergambar tengkorak, tas ransel bergambar tengkorak, sepatu kets bernuansa tengkorak, gantungan kunci motornya juga tengkorak.

Sebagai sesama muslimah, dia tidak setuju. Menurutnya tidak pantas. Dia protes mengapa saya membiarkan anak-anak menyukai aksesoris tengkorak?

Saya tidak berpikir sejauh itu karena saya rasa itu hanya semacam tren saja yang dengan berlalunya waktu akan hilang dan berganti dengan tren baru. Kebetulan waktu itu sedang hits-nya musik rock yang personilnya identik dengan aksesoris tengkorak.

Kebetulan pada masa itu putri saya seorang Manager Band Indi dengan aliran musiknya semacan Rock/Slow Rock dan sejenisnya. Jadi menurut saya, ya wajar saja kalau anak muda mengikuti tren yang ada.

Namun saya penasaran juga ingin mengetahui mengapa anak-anak mengikuti tren yang menggunakan simbol tengkorak dan sejauh mana persepsi atau kesukaannya terhadap  simbol tengkorak.

Sebelum diskusi dengan mereka, saya mempersiapkan pengetahuan  dan informasi terkait simbol tengkorak. Mulailah saya bergerilya di dunia maya, dengan menarikan jemariku  di atas keyboard laptop.

Hasil pencarian saya, salah satunya menyebutkan bahwa tengkorak adalah simbol pertapa. Sejak lama tengkorak memiliki komitmen pengasingan dan meditasi tentang kehidupan dan akhirnya, yaitu kematian.

Tengkorak selalu dikaitkan dengan simbol langsung dari kematian. Seseorang yang menggunakan perhiasan atau aksesoris tengkorak, biasanya tidak takut dengan topik “dunia lain”. Mereka menganggap kematian hanya tahapan, yakni transisi ke dunia lain.

Simbol sangat berarti bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang esensi mereka.  Namun “dunia fashion”, menentukan aturannya sendiri. Perhiasan/aksesoris bermotif tengkorak akan dapat memberikan sentuhan ketangguhan pada pemakainya.

Untuk bisa memakai perhiasan tengkorak berarti si pemakai memiliki selera dan gaya sendiri. Apa pun yang Anda pikirkan saat melihat tengkorak, kagum, takut, atau senang hanya melambangkan apa yang ingin Anda lihat tentang tengkorak.

Begitulah hasil diskusi kami.

Menurut putri saya, tengkorak itu seksi. Pada saatnya nanti, ketika sudah bosan, semua yang bernuansa tengkorak akan disingkirkan. Berganti dengan tren lain yang dia sukai.

Menurut saya, kita tidak perlu antipati atau menunjukkan sikap berlebihan ketika mendapati identitas sosial yang berbeda dengan kita.

Ini sama seperti melihat perempuan berjilbab. Mungkin ada yang sekedar mengikuti tren. Jangan heran jika suatu hari nanti bertemu dengan orang yang sama! Mungkin saja sudah berganti penampilan. Dia tidak lagi berjilbab bahkan dengan pakaian yang sedikit terbuka dan menonjolkan keindahan tubuhnya.

Penulis: Wiwit Sri Arianti adalah seorang pekerja kemanusiaan dengan hobi “blusukan” ke berbagai daerah dari Sabang sampai Papua, tulisan perjalanannya bisa dibaca di Baltyra.com. Berawal dari terpilihnya sebagai anggota “Emergency Response Team” sebuah organisasi kemanusiaan internasional, memberinya kesempatan melaksanakan tugas tanggap darurat di berbagai daerah mulai dari tsunami di Aceh sampai dengan bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah. Saat ini Wiwit sedang bekerja pada Organisasi Internasional sebagai Konsultan Perlindungan Anak untuk Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) di empat provinsi. Ibu bagi semua anak di Indonesia ini bisa disapa melalui: e-mail: witariq@gmail.com, FB: Wiwit Sri Arianti, dan ig: @witariq.