Janda Adalah Perempuan Merdeka

Menjadi janda di negeri yang menjunjung tinggi budaya patriarki merupakan tantangan berat. Budaya patriarki memberikan  label negatif kepada janda.

Label sebagai wanita penggoda dan pengganggu kehidupan rumah tangga sudah lama melekat pada seorang janda.

Belakangan ini memang pandangan masyarakat mulai bergeser karena banyak janda yang berhasil dalam karirnya sehingga mandiri secara finansial.

Sekalipun demikian, kondisi sosial budaya masih tidak adil dan diskriminatif  terhadap janda. Pada kasus perceraian perempuan sering menjadi pihak yang disalahkan.  

Setelah berstatus janda, mereka sering ditempatkan sebagai wanita pada posisi yang rendah, lemah, tidak berdaya dan membutuhkan belas kasihan.

Antara Wanita Penggoda dan Makhluk Tak Berdaya

Sebutan Janda disematkan kepada perempuan  yang tidak bersuami lagi baik karena cerai maupun ditinggal mati. Perbedaan penyebab menjadi janda hanya bisa dilihat pada status perkawinan di KTP.

Di sana tertulis cerai hidup atau cerai mati. Perbedaan status ini tidak berpengaruh terhadap persepsi masyarakat.

Persepsi negatif di kalangan kaum perempuan menganggap janda sebagai wanita penggoda yang mengancam keutuhan rumah tangga mereka.

Sedangkan persepsi positif  justru bersimpati pada janda cerai dengan menimpakan kesalahan pada pihak laki-laki. Sementara untuk janda cerai mati rasa simpati ditujukan pada perjuangannya untuk bisa  hidup mandiri tanpa suami.

Bagi yang sebelumnya berstatus sebagai ibu rumah tangga  kehilangan suami berarti kehilangan pe siri ncari nafkah keluarga. Menggantikan suami menafkahi keluarga tentu bukan perkara mudah. Butuh kerja keras dan ketangguhan untuk mengatasinya agar tetap bisa melanjutkan hidup.

Persepsi kaum Adam terhadap janda juga terbagi dua. Sebagian lelaki menilai janda sebagai objek yang bisa digoda karena  tanpa suami mereka  dianggap kesepian. Mirisnya lagi janda dipandang sebagai objek seksual.  

Dijadikan sebagai pemuas nafsu, selingkuhan atau istri simpanan. Untungnya masih ada sebagian lelaki yang menghormati dan menghargai janda. Meskipun ujungnya menempatkan janda sebagai kelompok perempuan yang harus dikasihani.

Di mata mereka janda adalah makhluk tak berdaya yang harus selalu ditolong. Bentuk pertolongannya barangkali tidak hanya materi tetapi juga dinikahi  secara siri sebagai istri kedua dengan resiko  yang sangat merugikan pihak perempuan.

Upaya Pemberdayaan Janda

Pandangan bahwa janda adalah makhluk tak berdaya rupaya juga diakui oleh kaum janda sendiri. Terbukti dari munculnya beberapa komunitas yang mewadahi para janda.

Sebut saja Persaudaraan Janda-Janda Indonesia (PJJI) dan  Single Moms Indonesia.  Kelahiran dua komunitas ini didasari oleh keinginan bersama untuk menjadi lebih berdaya. Melalui komunitas terjadi penyebaran informasi, terjalin relasi dan bisa saling memberikan dukungan.

PJJI yang berpusat di Yogyakarta  beranggotakan lebih dari 1000 orang sejak didirikannya pada tahun 1991.  Sebagian besar anggotanya berasal dari kalangan menengah ke bawah dengan berbagai macam latar belakang pendidikan, budaya, agama dan usia. Meningkatkan kemandirian dalam bidang ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan menjadi tujuan PJJI.  

Kegiatannya antara lain meliputi pendidikan dan pengembangan kualitas hidup serta bidang ekonomi dan koperasi.  Misi yang  diperjuangkan adalah melahirkan janda-janda yang mandiri, terhormat dan bermartabat.

Single Moms Indonesia (SMI)  yang berdiri pada tahun 2014 bertujuan membantu dan menguatkan para ibu tunggal. Mereka harus bisa mengenali luka batinnya kemudian berusaha keluar dari kebiasaan dan pikiran negatif. SMI hadir sebagai support group untuk saling menguatkan, mendukung dan menginspirasi satu sama lain.

Saat ini anggota SMI lebih dari 5000 single moms  dari seluruh Indonesia. Program rutin  SMI di beberapa kota berupa sharing session, talkshow, dan pelatihan dasar untuk membantu  ibu tunggal agar memiliki skill tambahan sehingga bisa menjadi sumber penghasilan. Dengan begitu mereka bisa memberdayakan diri, produktif dan powerful

Janda adalah Perempuan Merdeka

 Janda bukan perempuan lemah tak berdaya yang harus dikasihani. Sejatinya seorang janda adalah perempuan yang merdeka. Janda bisa melepaskan nama suaminya lalu dengan penuh percaya diri menggunakan namanya sendiri. Tidak terbebani oleh kewajiban menjaga nama suami dan keluarga besarnya. 

Segala konsekuensi dari tutur kata, sikap dan perilakunya menjadi tanggung jawabnya pribadi. Dia terlahir kembali  sebagai dirinya sendiri. Sesuatu yang  tidak dimiliki ketika masih  berstatus sebagai istri. Seorang janda juga memiliki kuasa penuh atas dirinya sendiri.

Segala bentuk aturan dan batasan dari suami yang menghalangi gerak langkahnya telah tiada. Kini menjadi lebih bebas mengekspresikan diri, mengembangkan potensi diri dan mengatur kehidupannya sendiri.

Perempuan merdeka mandiri secara ekonomi dan memiliki kekuatan hati yang luar biasa. Status janda bukan petaka melainkan jalan menuju proses pemberdayaan diri agar hidup lebih sejahtera. Jalan itu memang perjuangan panjang  penuh liku. 

Tidak ada gunanya meratapi nasib apalagi marah kepada masyarakat patriarki. Janda harus tetap bahagia karena kemerdekaan sungguh sangat berharga.

Penulis: Yuni Retnowati, seorang single mother. Yuni adalah kandidat Doktor Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Universitas Gadjah Mada sekaligus Dosen Prodi Ilmu  Komunikasi STIKOM Yogyakarta.  Karya  yang telah terbit berupa novel adalah Tembang Perawan (2011) Buket Merah Jambu (2016) dan Bias Pelangi (2020), satu kumpulan cerpen Pygmalion (2012) dan sepuluh antologi yang ditulis bersama penulis lainnya. Instagram @negeriyuni.