Kisah Usai yang Belum Selesai

“Ora kuat drajat”

Pepatah Jawa yang bermakna seseorang yang sedang mendapatkan kenikmatan tetapi justru mendapat kemalangan ini menguar dari bisik-bisik tetangga di kampung. Mereka mendengar  kabar saya bercerai.

Bagi mereka, saya perempuan merugi yang memilih berpisah dari suami  serta meninggalkan rumah tangga yang telah mapan. Hidup seorang perempuan berstatus janda dengan dua anak dipandang lebih menyedihkan dibandingkan perempuan yang disiksa suami mereka sendiri.

Begitulah perempuan dinilai dalam masyarakat yang sebagian besar dari mereka memandang hidup berpasangan akan lebih baik daripada sendirian.

Tujuh tahun saya mempertahankan keutuhan rumah tangga. Menahan setiap cacian dan siksaan. Saya berharap dengan berkorban, anak-anak akan bahagia.

Tetapi harapan yang saya inginkan seperti halnya memegang bayangan. Dua anak saya melihat bagaimana ayahnya memukuli ibunya.

Pada suatu sore yang tenang kami seharusnya bergurau bersama di ruang tengah sambil menonton telivisi atau bersenda gurau dengan dua balita kami. Tetapi sebuah pesan pendek yang muncul di gawai saya membuat huru hara dalam rumah kami yang nyaman.

“Mampirlah ke rumah saya jika kamu sedang berada di kota saya.”

Saya tahu pesan pendek itu hanyalah sebuah pesan nyasar. Saya dan suami saya mengenal orang yang mengirimkannya.

Kami juga tinggal di kota yang sama. Fakta itu tidak menjadi pertimbangan suami saya. Laki-laki itu hanya melihat bahwa istrinya mendapat pesan dari laki-laki lain.

Atas nama harga diri dia marah dan memposisikan dirinya sebagai korban. Dengan begitu akan mudah baginya menuntut balas.

Semacam alibi, dia menjadikannya alasan yang kuat untuk memukuli isterinya. Kemarahan yang menghebat membuatnya lupa bahwa tubuh yang dia pukuli itu adalah tubuh perempuan yang dia cintai.

Tubuh kecil saya kesakitan, tetapi saya hanya diam serta berharap suami saya akan berubah suatu saat kelak.

Saya tidak diajarkan bagaimana mencintai diri sendiri. Jadi saya beranggapan semua karena salah saya.

“Andai saya lebih lembut, dia tidak akan memukuli saya.”

Kemudian ketika hari berangsur mulai gelap, rasa takut semakin menebal. Suami saya merayu saya. Sambil tersenyum dia akan meminta maaf, mengatakan dirinya khilaf dan meminta berhubungan suami isteri.

Saat saya tolak, dia marah.

Dalil kewajiban seorang isteri dia teriakkan pada telinga kanan dan kiri saya yang selama ini patuh menerima umpatannya. Laki-laki itu tidak hanya menyumpahi saya tidak bisa masuk surga karena seluruh malaikat sedang melaknat saya.

Dia juga memperkosa saya.

Sedari kecil saya tidak diberitahu bahwa tubuh saya adalah milik saya, tetapi rasa sakit karena perkosaan suami saya membuat saya ketakutan dan tidak bisa merasakan kenyamanan saat berhubungan seksual.

Setiap hari saya harus melihat laki-laki itu. Setiap kali memandang wajahnya atau tiap kali bayangan tubuhnya tertangkap mata, tubuh saya terasa ditusuk-tusuk besi panas pada seluruh badan.

Banyak yang tidak percaya cerita saya. Mereka akan memandang saya dengan tatapan ketidakpercayaan. Sorot mata itu bagi saya merupakan penghakiman yang pedihnya melebihi luka ketika saya dipukul atau diumpat suami saya.

Semua seperti kembali menjadi tanggung jawab saya. Bahwa jika suami saya kasar, maka artinya saya telah berbuat salah. Kenapa tidak ada yang menanyakan bagaimana keadaan saya?

Terkadang mereka juga berkata, “Tidak ada asap jika tidak ada api.”

Saya seperti dituding seribu jari sebagai pihak yang bersalah. Seolah tidak masalah seorang istri bisa mati karena dihajar suaminya. Semua seperti menjadi benar jika seorang laki-laki memukul istrinya ketika perempuan itu telah berbuat sesuatu yang tidak diinginkan oleh laki-laki tersebut.

Anak pertama saya meniru kebiasaan ayahnya. Semua dia selesaikan dengan pukulan. Ketika dia marah dia akan memukul apa saja dan juga siapa saja.

Suatu hari pada sebuah malam, saat suami saya sedang pergi berolah raga di sebuah pusat kebugaran.  Anak pertama saya menemukan saya yang tengah menangis karena nyeri tubuh saya dengan sisa memar pada beberapa bagian tubuh. Ketika dia melihat saya menangis dalam gelap, dia pun ikut menangis dan memukuli saya.

Mungkin semesta sedang menyadarkan saya melalui anak saya. Kesadaran yang selama ini mengkhianati saya perlahan menghampiri kenyataan. Saya tidak mau anak saya menjadi pelaku kekerasan. Malam itu, saya mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan bertekad meninggalkan rumah.

Pintu pagar rumah kami, dan kendaraan-kendaraan yang ada di rumah semua dalam keadaan terkunci. Saya mencari kunci-kunci itu dengan tubuh gemetar.

Suami saya mengurung saya di rumah saya sendiri.

Saya bergeming, sesuatu yang sudah  dimulai harus diakhiri. Bersama dua anak balita dan seorang asisten rumah tangga, melompati tembok tinggi pagar rumah kami dengan memanjat pohon yang kebetulan tumbuh di dekat pagar.

Kehidupan di luar pagar ini bisa jadi akan lebih sulit, namun keinginan bebas dari rasa takut dan mengakhiri segala bentuk kekerasan mendorong saya dengan sekuat tenaga berlari menuju tempat pemberhentian bis terdekat.

Penulis: Triana Damayanti, seorang ibu dari dua orang perempuan belia. Kini dia sedang melawan penyakit kanker payudara dan mencoba melakukan self healing melalui tulisan, photografi, yoga dan meditasi. Bisa dijumpai di FB dan IG @api_kartini serta beberapa tulisannya di pojokdamay@blogspot.com