Memaknai Kemerdekaan bagi Ibu Menyusui

Di bulan Agustus, gegap gembita kemerdekaan selalu digaungkan ke seantero negeri. Perayaan hari kemerdekaan selalu membawa kita berpirkir lebih dalam, merefleksikan kembali tentang makna kemerdekaan bagi diri kita masing-masing.

Apakah saya sudah merdeka?

Apakah kemerdekaan ini sudah benar-benar dirasakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali?

Selain perayaan kemerdekaan, pada tanggal 1 sampai 7 Agustus lalu juga diperingati sebagai  pekan menyusui sedunia. Berbicara tentang menyusui dan kemerdekaan saya teringat oleh pertanyaan seorang teman.

  “Kenapa sih mencari ruang untuk merokok jauh lebih mudah daripada mencari ruang laktasi ya?”

Saya yang saat itu masih gadis dan belum bisa memahami keresahan yang dialaminya. Setelah saya menyandang predikat sebagai seorang ibu menyusui, ternyata mencari keberadaan ruang laktasi itu benar-benar perjuangan.

Sebagai seorang ibu menyusui yang mengalami hiperlaktasi, keberadaan ruang laktasi sangat berarti bagi saya karena harus segera memerah ASI agar tak menjadi mastitis terlebih ketika berada di area publik seperti rumah sakit, stasiun, bandara, terminal, hotel, pasar, tempat wisata, pusat perbelanjaan maupun di lingkungan kerja.

Apa itu merdeka bagi ibu menyusui?

Seharusnya merdeka menyusui adalah ketika sebagai ibu menyusui merasa aman dan nyaman menyusui kapanpun dan dimanapun. Ia  mendapatkan dukungan positif dari keluarga, lingkungan, para tenaga kesehatan juga pemerintah.

Dukungan dari berbagai pihak

Ibu menyusui membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar ia mau dan mampu untuk memenuhi hak anaknya mendapatkan ASI. Untuk itu, perlu adanya keterlibatan berbagai sektor antara lain, pemerintah dan lesgislatif dengan adanya hukum yang menjamin perlindungan terhahap kegiatan menyusui.

Selain itu, peran tenaga kesehatan juga sangat berpengaruh yakni memberikan waktu untuk ibu dan bayi melakukan proses inisiasi menyusui dini (IMD) serta berada di ruangan yang sama dengan bayi selama 24 jam pertama pasca kelahiran.

Dukungan dari keluarga terdekat tak kalah penting. Keluarga sebagai orang terdekat sebaiknya memberikan dukungan positif terhadap kegiatan menyusui.

Karena yang terjadi di lapangan sekaligus yang saya alami, bahwa yang melemahkan daya juang seorang ibu untuk menyusui justru berasal dari keluarga terdekat.

Regulasi Hukum

Pembangunan sarana prasana di ruang publik seharusnya memperhatikan aspek kesetaraan bagi semua lapisan masyarakat, tetapi harus diingat bahawa kebutuhan masyarakat berbeda -beda tergantung pada jenis kelompoknya.

Perempuan dan laki- laki memiliki kebutuhan yang berbeda. Untuk itu, dalam membuat kebijakan pembangunan publik harus memberikan kesetaraan yang disesuaikan dengan kebutuhannya.

Dukungan untuk ibu menyusui sangat diperlukan agar para ibu mampu dan mau untuk memenuhi hak anak mendapatkan ASI ekslusif. Bentuk dukungan pemerintah terhadap ibu menysui dapat dapat diwujudkan dengan adanya kebijakan, perlindungan dan fasilitas khusus untuk menyusui di ruang publik.

Keberadaan ruang laktasi sebenarnya sudah tertuang dalam UU nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan , Peraturan Pemerintah  Nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI dan Permenkes RI nomor 15 tahun 2013.

Ketentuan yang tercantum dalam aturan tersebut mewajibkan penyelenggara kerja menyediakan ruang laktasi beserta fasilitas yang harus tersedia didalamnya. Untuk itu, para penyelenggara kerja maupun lembaga pemerintah wajib menyediakan ruang laktasi yang layak di lingkungan kantor.

Hak perempuan bekerja untuk menyusui juga dilindungi oleh pasal 88 Undang- Undang Nomor 13 tahun 2003. Dalam aturan tersebut, para ibu menyusui berhak mendapatkan jeda waktu untuk memerah ASI atau menyusui saat jam kerja.

Sayangnya aturan ini masih banyak diabaikan oleh banyak perusahaan maupun kantor-kantor lembaga pemerintahan. Benar adanya jika mencari area merokok jauh lebih mudah ketimbang mencari ruang laktasi.

Meskipun sederet aturan telah disahkan oleh pemerintah, kenyataan dilapangan berkata lain. Masih banyak penyelengara kerja maupun ruang publik lainnya yang tak menyediakan ruang laktasi.

Sering sekali saya ketika berada di area publik, untuk memerah ASI ataupun menyusui harus memutar otak untuk mencari ruang yang aman dan nyaman. Tak jarang saya harus menyusui di mushola, kamar mandi maupun mencari tempat yang sepi.

Kalaupun terpaksa memerah ASI atau menyusui di area publik, saya selalu menyediakan apron khusus untuk menyusui. Ironisnya, kegiatan menyusui tersebut justru dipandang “tak elok”.

Ketika kegiatan menyusui berlangsung, sering saya mendapat tatapan heran bahkan terkesan sinis.

Berdasarkan pengalaman pribadi, tak semua area publik memiliki fasilitas ruang laktasi. Bandara dan mall besar biasanya memiliki setidaknya satu  ruang laktasi. Sedangkan pada tempat umum seperti pasar, terminal dan area wisata keberadaan ruang laktasi masih minim sekali.

Menyusui adalah hak dasar ibu dan bayinya. Setiap lapisan masyarakat memiliki peranan besar dan pada akhirnya paling perlindungan terbesar berada pada kebijakan yang berpihak pada hak ibu dan bayi.

Penulis: Ema Puji Lestari, terlahir di kota Reog, dan beruntung hidup nomaden dari Yogyakarta, Belitung, Pekanbaru. Ibu satu anak ini punya mimpi melanjutkan S3 di Negeri Kangguru. Ema pernah bekerja sebagai Pustakawan dan Pengajar. Kini Ema berdomisili di Tuban, Jawa Timur dan fokus menjadi teman bermain si kecil, mengisi kesibukan dengan belajar menulis juga menjadi Peneliti Paruh Waktu. Ia memiliki ketertarikan di dunia otak kanan, literasi dini dan pengasuhan yang dituangkan di akun instagramnya @ema_pujilestari.