Dari C Mayor Menjadi A Minor

Sedari kecil, saya selalu berada dalam lingkungan yang mayoritas dan merasa baik-baik saja. Dunia itu indah dan semua orang adalah orang baik kecuali saat saya beradaptasi dengan dunia baru di taman kanak-kanak. Selebihnya saya melenggang dalam proses belajar yang mudah, banyak teman, dan bahagia hingga di bangku SMA.

Saya selalu bersekolah di sekolah negeri. Saya berteman dengan siapa saja meski saya berada dalam kumpulan anggota yang mendominasi hampir semua kegiatan. Bisa dikatakan, dalam bahasa musikal hidup saya selalu berada di chord C mayor.

Cerita berubah ketika saya harus kuliah dan tidak berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri. Orangtua menyuruh saya masuk ke satu perguruan tinggi swasta dengan alasan sederhana yang menjengkelkan. Lokasinya dekat dengan rumah Eyang sehingga saya bisa tinggal di sana.

Ternyata, keputusan untuk menuruti keinginan orangtua memberikan satu dunia baru yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Keberadaan saya di sana yang tadinya terasa sangat salah, pada akhirnya menjadi pintu pembuka perjalanan yang tak terlupakan dan sangat berarti hingga kini.

Universitas swasta di Surabaya yang saya masuki ini memiliki mahasiswa yang mayoritas adalah warga keturunan Tionghoa. Tiba-tiba saja, saya seorang Jawa tulen ini menjadi kaum minoritas di sebuah dunia baru.

Karena ini merupakan universitas berbasis agama Kristen, maka saya terkaget-kaget dengan berbagai macam ajaran Kristen dan  ibadah kebaktian yang wajib diikuti di tahun pertama.

Sebenarnya saya tidak bermasalah dengan perbedaan suku dan agama. Saya sempat oleng juga setelah saya tumbuh di kehidupan digdaya sebagai bagian dari kelompok mayoritas secara suku dan agama.

Saya memiliki banyak sahabat yang berbeda agama dan dari keturunan Tionghoa. Itulah mengapa saya tidak merasa berat ketika didaftarkan masuk ke sana.

Hanya saja, saya tidak pernah saya membayangkan keadaannya akan menjadi semasif itu. Di semester pertama saya sempat terombang-ambing akan keputusan untuk mundur, tetapi saya lalu bertekad untuk maju terus. Saya teringat banyaknya uang yang sudah dikeluarkan. Tentu saja waktu terbuang percuma bila saya harus mengulang dari awal.

Tekad kuat pun diluruskan.

Perlahan-lahan, saya menemukan diri ini kembali. Persahabatan terjalin dengan teman dari seluruh penjuru Indonesia, dengan berbagai agama dan kepercayaan. Sembilan orang teman akrab yang beragam membuat hidup begitu kaya.

Ada yang dari Tanah Toraja dengan dialeknya yang khas, ada yang dari Banjar dengan bahasanya yang asing bagi saya, ada Jawa tulen yang sedari kecil hidup di Papua.

Bahkan enam orang anggota geng merupakan keturunan Tionghoa yang berasal dari berbagai kota: Solo, Malang, Medan, Probolinggo, dan asli Surabaya. Lima tahun bersama mereka membuat saya seakan berkeliling Indonesia dan mengenal berbagai keajaiban indah yang mereka ceritakan dari daerah asalnya masing-masing.

Saya menjadi tahu dan memahami perbedaan cara dan budaya teman keturunan Tionghoa yang tinggal di Jawa Timur, Jawa Tengah, Medan dan yang asli Suroboyo.

Saya belajar bahasa Banjar sekaligus bahasa Toraja dan Papua.

Saya menginap di rumah teman di Malang yang penuh dengan salib sementara saya diingatkan terus untuk salat lima waktu.

Berpuasa di antara mereka yang tidak, saya merasa malu sendiri. Mereka begitu menghormati, begitu memahami. Mereka mau menanti saya, yang satu-satunya muslim di antara sepuluh orang anggota gerombolan, menunaikan salat sebelum melanjutkan kegiatan kelompok.

Lulus dari sana, saya merasa sangat-sangat kaya. Saya merasa lebih penuh, siap menghadapi segala bentuk perbedaan dalam kehidupan. Bila bicara musik lagi, hidup saya setelahnya seperti dalam chord A minor yang nyaman, kuat, dan steady.

Dari hasil survei nasional terbaru dari PPIM UIN Jakarta dan Convey pada Maret 2021 lalu dinyatakan satu dari tiga mahasiswa memiliki tingkat toleransi beragama yang rendah atau sangat rendah, terutama di perguruan tinggi yang berbasis agama.

Ini membuat saya miris.

Apakah mahasiswa sekarang—pastinya tumbuh dengan ajaran orang tua mereka yang sekitaran saya—akan menjadi manusia yang tipis pita toleransinya dan hidup dengan hal itu?

Buat saya, pengalaman menjadi minoritas di bangku kuliah dulu membuat saya bisa menjunjung tinggi toleransi karena tahu di mana batas-batas itu harus diletakkan.

Itulah mengapa, saya sedih ketika banyak orang sering mempertajam perbedaan kesukuan dan agama yang tidak perlu.

Ketika saat ini dibutuhkan kesatuan Indonesia yang kuat dan tangguh, sudah seharusnya perbedaan itu disisihkan. Ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan.

Semoga di luar sana akan semakin banyak yang bisa menerima bahwa memang perbedaan itu ada dalam kehidupan. Perbedaan itu hanya perlu dijalani bersama tanpa saling mengganggu.

Indonesia pasti akan pulih lebih cepat.

Penulis: Windy Effendy, ibu dari dua gadis yang tinggal di Surabaya. Lulus dari Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra, Surabaya, dan sempat menjadi assistant engineer di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang HVAC System. Dua belas tahun terakhir dihabiskan di depan kue-kue pesanan yang didesain personal, sebelum akhirnya kini berkutat dengan naskah dan penyuntingan sebagai sebuah jalan pulang kecintaannya pada bahasa.