Cyberfeminism dan Kisah Perempuan-perempuan yang Terbelenggu oleh Media Digital

Cyberfeminism adalah sebuah istilah yang muncul seiring dengan kemajauan teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet dalam dua dekade terakhir ini.

Istilah ini menjadi semakin populer seiring dengan semakin meluasnya gerakan feminis dengan agenda utamanya yaitu mengusung perjuangan kesetaraan, keadilan dan pemberdayaan perempuan melalui jalur cyberspace (internet).

Keberadaan cyberspace ini sangat memungkinkan bagi perempuan untuk mengekspresikan pemikirnya, perasaannya, identitasnya, eksistensinya dan segala hal tentang kediriannya di ruang publik.

Singkatnya, cyberfeminism merupakan gerakan, pendekatan, metode atau strategi yang dipakai sebagai alat perjuangan untuk  mengampanyekan  kebebasan, kesetaraan, keadilan, kemerdekaan bagi perempuan melalui dunia cyber.

Belakangan ini isu child-free sedang ramai dibicarakan setelah seorang artis dan influencer di Indonesia yang menyatakan pilihannya untuk tidak memiliki anak (child-free).

Sontak hal ini  membuat mayoritas netizen yang belum terbiasa dengan perbedaan pendapat ataupun tidak siap dengan hal-hal di luar “normativity”  menghujat dan mem-bully atas pilihan tersebut. Hal itu lengkap dengan dalil agama, dalil sekulerisme, maupun dalil-dalil subjektivitasnya sendiri.

Namun demikian tidak sedikit pula kelompok aktivis perempuan, penulis perempuan, influencer, akademisi, bahkan “Ning” dan ‘Nyai” perempuan ikut bersuara.

Mereka membeberkan segala realitas, rasionalitas dan penjelasan mentalitas atas pilihan yang dianggap menyalahi  sistem normativitas  masyarakat yang sudah sejak lama mengakar dan mendarah daging.

Pola pikir yang terhegemoni

Sebagai perempuan yang lahir dan tumbuh besar dalam sistem dan kultur patriaki yang hakiki, pola pikir kita sering terjebak atau bahkan meng-aminkan “konstruksi baku” yang menempatkan laki-laki diatas perempuan.

Bahwa laki-laki harus maskulin lengkap dengan segala sikap dan sifat kelelakian yang dilekatkanya, sementara perempuan juga harus feminin lengkap dengan sederet tuntuan, sikap, sifat dan “takdir” yang dilekatkan padanya.

Akibatnya, saat ada perempuan yang dianggap “keluar” dari norma yang sudah “dibakukan” tersebut, otomatis menjadi bulan-bulanan dan sasaran pem-bully-an bahkan oleh kelompoknya sendiri.

Hegemoni yang kuat dan mengakar ini kemudian juga sebenarnya “menjajah” perempuan, karena perempuan menjadi takut dan merasa insecure jika mengambil “jalan yang berbeda”.

Self-healing dan kebebasan beraktualisasi

Di tengah beratnya menjalani peran keperempuanannya, setiap perempuan berhak berekspresi tanpa harus merasa insecure.

Perempuan tidak harus bertanggungjawab kepada siapapun untuk menjelaskan apapun pilihan dan ekspresinya dimulai dari hal-hal yang sepele saja dulu, tidak harus tentang  keputusan besar seperti  menikah atau tidak, mempunyai anak atau tidak, dan seterusnya.

Tetapi, dimulai dari self expression saja itu sudah luar biasa.

Bagaimana bisa merdeka dalam wilayah-wilayah yang lebih besar dan luas jika area “kediriannya” saja masih terbelenggu oleh rasa ketakutan, kekahawatiran akan di nyiyirin, di-bully, dianggap sombong, dianggp lebay, dianggap norak dan sebagainya.

Bagaimanapun juga, setiap individu apapun gendernya mempunyai cara sendiri dalam berekspresi.

Bentuk ekspresi tersebut bisa jadi adalah upaya self healing seseorang, sebagai penawar dan penghibur bagi diri, di tengah kerasnya pergulatan dan drama kehidupan.

Membangun Komunitas Cyberfeminist

Oleh karena itu, membangun komunitas-komunitas perempuan yang merdeka dan berdaya menjadi sebuah keniscayaan untuk membuka jalan bagi semua perempuan agar lebih merdeka dalam berekpresi dan beraktualisasi.

Syukur-syukur bisa berkarya atau berkreasi sehingga mampu menginspirasi.

Komunitas cyberfeminist ini tentu saja tidak hanya sebagai tempat untuk berjejaring, namun jauh daripada itu.

Komunitas-komunitas ini diharapkan dapat menggetarkan nurani perempuan untuk tampil lebih percaya diri, berani keluar dari normatifitas, atau bahkan membuat setiap perempuan lebih sadar bahwa dirinya kuat, tangguh, tidak sendiri, dan sangat berharga.

Penulis: Zakiya Mufida, Ibu dengan tiga anak, sempat terjebak antara dua budaya yang berbeda, Jawa dan Madura. Dosen dan peneliti di Universitas Trunojoyo Madura. Berminat pada kajian budaya, gender dan seksualitas. Zakiya aktif menulis artikel di jurnal ilmiah dan menjadi presenter di seminar akademik baik lokal, nasional maupun internasional. Saat ini dia sedang menempa potensi diri untuk lebih produktif menulis essay atau artikel populer. Dia bisa dijangkau di akun media sosial Instagram zakiyatulmufidahahmad.