Perempuan Berkarakter dan Memenuhi Sebuah Panggilan Melayani

“Perempuan adalah bumi, yang menumbuhkan padi dan singkong, tetapi juga yang akhirnya memeluk jenazah-jenazah manusia yang pernah dikandungnya dan disusuinya.” (Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Rantau)

Tulisan ini menceritakan tentang seorang Kepala Sekolah yang sangat legendaris, dari sebuah sekolah perempuan yang terletak di Jakarta Pusat, Santa Ursula. Ia adalah Suster Francesco Marianti, OSU, biarawati dari Ordo Ursulin yang kiprahnya sebagai pendidik mewarnai hidup 6000 remaja putri.

Sr. Francesco turut membentuk identitas ribuan remaja perempuan di usia rentan dalam proses pencarian identitas diri. Sr. Francesco menyadari betul pentingnya mendidik perempuan belia yang kerap kali bingung menjawab pertanyaan, “Siapakah saya?”.

Sr. Francesco percaya bahwa pendidikan di masa yang rapuh, di usia 15-18 tahun adalah hal yang sangat penting dalam menentukan masa depan perempuan. Dia percaya dengan filosofi yang dianut oleh Aristoteles “educating the mind without educating the heart is no education at all”.

Beliau pernah berkata, “Saya lebih bangga mencetak anak yang tidak hebat-hebat amat tapi peduli terhadap orang lain; daripada mencetak anak yang hebat otaknya tapi hanya peduli terhadap nasibnya sendiri” (Fikir Catatan Seorang Pendidik, 2002: 52).

Melalui program Reading and Writing, beliau mengajak anak-anak didiknya untuk sejenak mengalami kehidupan ‘orang lain’ yang terpinggirkan, seperti menjadi pengamen jalanan, pedagang kaki lima, atau mengamati kehidupan pekerja seks komersil (PSK), dan buruh perempuan.

Pengalaman menjalani hidup mereka yang termarginalisasi secara ekonomi, sosial, dan politik ini mengajarkan para gadis remaja ini untuk melihat manusia dari perspektif yang berbeda.

Tidak memoles orang lain dengan warna hitam putih, namun melihat mereka dengan kesadaran baru dan empati. Bahwa mereka yang tertindas dan terlupakan juga manusia yang hendaknya diperlakukan layaknya manusia.

Menurut saya, ini merupakan nilai yang paling berharga dari perempuan.

Fikir

Setiap murid Santa Ursula yang pernah dididik beliau pasti pernah melihat papan kecil kayu berukuran 5 x 20 cm bertuliskan “Fikir” di meja kerja Sr. Francesco.

Papan kecil ini membuat setiap murid yang akan menghadapnya harus berpikir keras tentang apa yang sebaiknya dikatakan dan pertanyaan-pertanyaan apa yang mungkin akan beliau ajukan.

Seringkali sambil menunjuk ke papan kecil itu beliau bertanya, “Sudah kamu pikirkan matang-matang?”

Rupanya hal ini berkesan bagi para siswi, bahkan sampai lulus dari SMA Santa Ursula kami masih mengingat tentang papan Fikir ini.

Melalui papan kecil dan pertanyaan singkat namun mendalam itu, Suster Francesco mendidik para gadis muda belia tentang pentingnya berpikir jernih dan menyeluruh sebelum mengambil sebuah keputusan, termasuk memikirkan apakah sanggup menanggung semua konsekuensi dari keputusannya.

Sr. Francesco pernah mengatakan, “…banyak hal yang sebetulnya bisa menjadi lebih baik atau berkualitas apabila manusia tidak terlalu cepat berbicara…”

Berpikir, menurut beliau, melambangkan kebebasan manusia, seperti yang dilukiskan oleh penyair favoritnya, Kahlil Gibran: “…you may chain my hands and shackle my feet, you may even throw me into a dark prison, but you shall not enslave my thinking because it is free…” (Fikir Catatan Seorang Pendidik, 2002).

Perempuan seharusnya mampu bernalar, berpikir kritis, dan berani berpendapat, meskipun pendapatnya sungguh menentang arus.

Kesaktian perempuan juga terletak pada wataknya. Perempuan mempunyai prinsip yang jelas, tahu apa yang dia mau dan apa yang dituju, berani menjalani proses dalam mencapai tujuan, dan tidak mudah patah di tengah jalan.

Suatu hari beliau mengumpulkan anak-anak yang terpilih dalam program kepimpinan yang disebut Prakar (dari kata pra-kaderisasi). Beliau bertanya kepada Ketua Prakar tentang mengapa ia sering terlambat datang ke sekolah sehingga akhirnya mengalami penurunan nilai pelajaran.

Sang siswi menjelaskan bahwa hal itu disebabkan karena jarak rumah yang jauh dari sekolah dan karena kesibukannya mengurus adik-adiknya sebelum berangkat ke sekolah.

Ternyata beliau tidak marah, ia justru berkata, “Saya lebih bangga dengan murid yang nilainya biasa-biasa saja tapi punya tanggungjawab. Kamu dengan berbagai tanggungjawabmu masih bisa memperoleh nilai yang cukup bagus, itu luar biasa…”

Dari peristiwa ini saya belajar bahwa kekuatan perempuan terletak pula pada pengalamannya dalam merawat hal-hal yang tampaknya biasa atau remeh-temeh.

Namun jika dilihat dari cakrawala yang lebih luas, sejatinya adalah tindakan meletakkan batu bata kehidupan, satu persatu, sehingga terciptalah sebuah menara kehidupan manusia yang utuh.

Esensi perempuan merdeka adalah perempuan yang cerdas, berwatak, dan melayani sesama.

Penulis: Stephanie Iriana Pasaribu adalah kandidat PhD dari Universitas Groningen di Belanda. Ia percaya akan kekuatan menulis dan menggagumi penulis-penulis seperti Pramoedya Ananta Toer, Albert Camus, Anthony de Mello, Maya Angelou, dan Soren Kierkegaard. Buku pertamanya adalah, “Derita Cinta Tak Terbalas” yang adalah hasil dari skripsinya di bidang Psikologi. Stephanie mempunyai kegemaran membaca, menulis, berenang, dan traveling.