Berdaya Untuk Merdeka

Pernikahan merupakan pintu gerbang menuju fase kehidupan berikutnya. Kebahagiaan menjadi tujuannya. Banyak faktor menentukan untuk bisa mencapainya antara lain kepribadian, pola asuh, dan latar belakang sosial dari setiap pasangan.

Riak-riak kecil hingga konflik besar tentunya menghampiri setiap rumah tangga. Solusi diharapkan hadir hingga didapatkan pelajaran dan pendewasaan untuk keberlangsungan mahligai rumah tangga selanjutnya. Sayangnya tidak semua seperti itu, banyak juga yang berujung pada kekerasan.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan tindakan dalam rumah  yang mengakibatkan penderitaan fisik maupun mental bagi orang lain yang tinggal satu rumah.

Siapa yang paling menderita?

Perempuan dan anak karena mereka dianggap tak mampu melawan.

Apakah KDRT hanya berupa penganiayaan fisik?

Tentu tidak, KDRT dapat berwujud kekerasan fisik, psikologis, seksual, maupun ekonomi.

Tutup Mulut

Banyak kasus KDRT tidak terungkap. Tidak sedikit korban yang memilih bungkam dan tetap menjalani kehidupan bersama pelaku. Mereka tahu penderitaannya akan terus berulang dan menjadi lingkaran setan.

Apa penyebabnya?

Mayoritas korban takut dan tidak berdaya untuk mengungkapkan kejadian yang menimpanya. Hal ini sangat wajar mengingat para korban KDRT sering diisolir dari sekitar oleh para pelakunya.

Atas segala kekerasan yang menimpanya, tanpa disadari telah tertanam di pikiran korban bahwa dirinya tak mampu.

Tidak semua orang di sekeliling korban peduli dan percaya atas apa yang menimpa korbannya. Bahkan korban diberi stigma, dianggap salah karena membuka aib keluarganya.

Belum lagi masyarakat dengan pikiran konvensional menganggap KDRT itu hal wajar dalam berumah tangga.

Faktor pengetahuan juga berperan terhadap pelaporannya. Sebagian korban tidak tahu harus melapor ke mana dan bukti apa saja yang harus mereka kumpulkan.

Kendala bahasa juga melanda para korban yang tinggal di negara asing atau tempat yang jauh dari kelahirannya. Itu semua membuat KDRT tumbuh subur layaknya fenomena gunung es.

Pelakunya pun tetap berada di zona nyaman.

Membekas Lama

Baik terungkap maupun tidak, dampak KDRT selalu tidak ringan bagi para korbannya. Perlu waktu yang lama dan proses yang panjang untuk menyembuhkannya.

Korban sering merasa sangat sedih, kehilangan, sakit, dikhianati, sendirian, tidak berharga, dan rasa percaya dirinya hancur.

Pemulihan bagi para korban dapat dilakukan perlahan, jadi jangan memaksakan penyembuhan terlalu cepat. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengakhiri hubungan dan menjauh dari kehidupan pelaku untuk menghindari penderitaan berulang.

Selanjutnya korban bisa membangun kehidupan baru dan berhak meraih masa depan yang lebih baik. Perubahan pola hidup dapat bisa menjadi pilihan, namun jika korban butuh waktu tenang sejenak tanpa perubahan juga tidak masalah.

Bangkit dari Reruntuhan

Perubahan besar hidup dapat dimulai dengan berpindah tempat tinggal dan mengubah pola/gaya hidup. Dengan demikian suasana baru muncul dan perlahan menghapus memori pahit para korban. Tentunya tempat tinggal baru yang dipilih memenuhi syarat keamanan yang melindungi korban dari pelaku.

Korban KDRT sering merasa sendirian dan terisolir karena sebelumnya si pelaku memutus hubungan korban dari keluarga atau temannya. Untuk mengatasinya, korban dapat mengontak kembali teman lama atau keluarga mereka atau bahkan mencari kenalan baru.

Komunitas yang memberi energi positif dan suasana kondusif sangat diperlukan korban untuk bangkit, misalnya komunitas perempuan penyintas KDRT.

Di dalam komunitas ini setidaknya mereka dapat saling berbagi cerita dan bertukar pikiran tentang pengalaman dan cara bertahan hidup. Bergabung dengan organisasi lokal yang melindungi anak dan perempuan juga bisa menjadi pilihan.

Harga diri yang rendah juga masalah yang perlu diatasi pada perempuan korban KDRT. Sebelum meraih kembali harga diri, para korban harus menyadari betapa pentingnya mencintai diri mereka dan mengetahui bahwa kehadiran mereka berarti.

Para perempuan ini perlu memberi waktu dan ruang untuk dirinya sendiri setiap harinya. Memberikan penghargaan terhadap dirinya atas segala pencapaian sekecil apapun itu. Melakukan aktivitas yang disukai seperti berolahraga dan relaksasi, menulis, membaca, atau memasak.

Rasa percaya diri penting untuk dipulihkan pada korban KDRT.

Korban perlu diingatkan kembali prestasi atau capaian apapun yang pernah diraihnya dalam hidup. Identifikasi potensi dan kekuatan yang dimiliki dapat membantu korban menemukan kembali jati diri.

Tentunya hal ini dilakukan di tengah komunitas tepat yang penuh dukungan.

Perempuan korban KDRT juga harus memiliki semangat melanjutkan hidup, harapan dan cita yang realistis untuk masa depannya. Untuk mencapainya, mereka hanya perlu fokus pada jalannya tanpa memedulikan hal yang dipikirkan orang.

Mereka harus menutup telinga atas komentar destruktif sekelilingnya. Memiliki pekerjaan, mengembangkan potensi diri, memelajari keterampilan baru, menempuh berbagai kursus dan studi dapat membantu para perempuan berdaya dalam menentukan masa depannya.

Penulis: Afiarina Dhevianty adalah seorang dokter spesialis anak dan konselor menyusui. Single Mom dari seorang bidadari kecil dan survivor KDRT. Dia mencintai dunia anak-anak dan menulis. Senang  menginspirasi sekelilingnya. Penulis buku Strong Single Mom dan Buku Pintar Perempuan. Dapat dijumpai di Instagram: wonderful_mums atau facebook: Afiarina Dhevianty.