Kiprah Advokat Perempuan

Advokat adalah profesi terhormat (officium nobile). Menyandang posisi ini, seorang advokat memiliki kewajiban mulia dalam melaksanakan pekerjaannya, berperilaku terhormat (honorable), murah hati (generous),  dan bertanggung jawab (responsible).

Meski tak bisa dipungkiri di lapangan ditengarai ada beberapa Advokat yang menghalalkan segala cara dalam membela kliennya seperti terlibat mafia hukum, merekayasa kasus/alat bukti  hingga menyogok penegak hukum.

Tak mudah bagi perempuan menjalani profesi sebagai Advokat.

Namun menjadi Advokat adalah pilihanku. Sebagai Advokat perempuan, aku tak luput sasaran hujatan dan tekanan. Kerap menghadapi benturan.

Aku bahkan mengalami teror dan intimidasi melalui sms, ucapan atau sindiran dari massa yang dibawa oleh lawan klien yang berseberangan di persidangan.

Acap kali aku harus menghadapi sikap arogan dari  aparat penegak hukum, baik polisi, jaksa, maupun hakim.  Semua itu tidak menyiutkan  nyali, malah semakin teruji. Seperti saat aku menangani kasus-kasus berbau politik, ada nuansa SARA atau HAM di situ.

Menghadapi  situasi yang sulit ini, sering aku berpikir, semenantang inikah medan yang harus dilalui perempuan sebagai Advokat ?  

Jika laki-laki yang berprofesi Advokat, akankah  bagi mereka situasi ini tidak dirasakan sebagai hal yang berat ?

Lingkungan dan atmosfer  profesi yang menempa diriku  menjadi kritis, tegar, tangguh dan mandiri. Aku harus memiliki emosi yang stabil.

Dengan kata lain, aku harus manage emosi, percaya diri, menghilangkan rasa takut dan cemas, meski jujur sebagai manusia pasti memiliki rasa takut, khawatir dan cemas.

Pada tahun 2005-2006, saat masih “nyantri” di Advokat Senior Trimoelja D. Soerjadi, aku dipercaya  menangani kasus Pilkada. Masa itu belum ada Mahkamah Konstitusi di sebuah Pengadilan yang berada di daerah Pantura.

Selaku kuasa hukum dari Diknas (Dinas Pendidikan)  dan KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah), kami melawan pasangan bacalon Pilkada yang tidak lolos verifikasi. Perkara ini bagiku bukan perkara biasa karena kental dengan nuansa politik, pertarungan calon antar partai politik dan masa pendukungnya.

Saat bersidang menangani kasus tersebut, aku mengalami kekerasan psikis berupa hujatan, cemohan, teror melalui sms.

Mentalku berusaha dijatuhkan oleh mereka karena saat itu aku adalah Advokat dari Surabaya yang baru saja bergabung di Tim Penasihat Hukum yang sudah terbentuk  sebelumnya.

Ketika memasuki ruangan sidang, aku mendapatkan tepukan tangan, suara riuh, dan cemohan. Kerap kali ketika aku sedang bertanya kepada saksi yang dihadirkan oleh kuasa penggugat (pasangan bacalon), mereka meneriaki “Huhhhhh” dan membuat kegaduhan dengan maksud memecah konsentrasiku.

Aku tidak terpancing. Semakin aku mengalami teror dan tekanan, aku justru semakin tertantang.

Di sini kualitasku sebagai Advokat yang mampu menjalankan profesi secara profesional dan bermartabat benar-benar diuji.

Tidak cukup itu, dalam perkara yang sama, aku diminta keluar dari ruang sidang oleh Ketua Majelis Hakim. Sebelumnya terjadi perdebatan sengit, ketika aku berusaha mempertahankan prinsip hukum yang benar yang aku percayai dan aku pegang.

Ketua Majelis Hakim  dengan arogan dan sinis berkata, “Hak saudara mempertahankan prinsip yang Anda anut dan yakini, tetapi di sini di ruang sidang ini, saya berkuasa dan memiliki kekuasaan. Silakan Anda keluar dari ruang sidang ini jika Anda tidak memenuhi apa yang saya perintahkan.”

Dengan suara  lantang, aku disambut sorak sorai dan teriakan dari masa pendukung lawan klien. Sebagai catatan, hakim yang mengusirku dari ruang sidang adalah seorang perempuan.  

Karena telah diusir, aku harus berdiri dari tempat duduk dan keluar melalui kerumunan massa yang memenuhi ruangan sidang.

Melihat aku diminta keluar dari ruangan sidang, dua kolegaku  yang adalah Advokat laki-laki, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka hanya diam membisu dan tak melakukan apa-apa.

Secara kolegial, jika salah satu tim penasihat hukum diminta keluar oleh Ketua Majelis Hakim maka mereka pun seharusnya juga ikut keluar dari ruangan sidang.

Pada saat agenda pembuktian yakni pemeriksaan saksi-saksi, sekali lagi aku diuji. Dua kolegaku diam membisu, tak satu pun pertanyaan keluar dari mulut mereka.

Secara spontan, aku menulis dalam secarik kertas. Aku berikan daftar pertanyaan yang belum aku tanyakan kepada kolegaku yang berada tepat di sampingku.

Aku ingin dia juga bertanya kepada saksi yang dihadirkan oleh kuasa lawan. Umpanku berhasil, meski itu terlihat dia terpaksa melakukannya.

Satu hal lagi, saat menjadi  Advokat Perempuan, aku harus bisa bersikap terhadap pandangan sinis yang merendahkan.

Ah perempuan, paling-paling kalau kepepet bisanya hanya menangis, merayu, atau merajuk.

Aku pastikan bahwa pandangan miring itu tidak berlaku pada diriku.

Aku mampu bekerja secara profesional, mandiri, tangguh,  bermartabat, dan berintegritas berkat didikan, gemblengan dan teladan dari seniorku selama aku bekerja dengan beliau.

Penulis: Nur Badriyah adalah seorang Advokat yang menyukai heritage, traveling, koleksi pensil, bros dan souvenir menarik. Dia senang membuat kue, cake, roti, dan camilan di luar kesibukannya berkutat dengan persoalan hukum di Pengadilan. Nur aktif menulis buku keempatnya. Karyanya yang sudah diterbitkan adalah Antologi Essay HIIB “Single Fighter Woman” 2018,  HIIB Dear Ayah “ Lelaki Pertamaku” 2019, Antologi Essay Jejak Kehidupan “Ketika Hidup dalam Titik Terendah” 2021. Ia bisa dihubungi melalui akun Facebook Nur Badriyah, akun Instagram nurbadriyah atau Email : noer_badriyah@yahoo.com.