Senyumku Sudah Sempurna

Wanita dan kecantikan adalah dua hal yang sudah biasa disandingkan. Walaupun demikian, sampai saat ini belum ada definisi kecantikan yang bisa disetujui oleh semua orang, terutama oleh kaum wanita itu sendiri.

Definisi cantik paling mendasar adalah soal kecantikan fisik. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan kecantikan fisik adalah penting walaupun itu bukan hal yang utama.

Kecantikan fisik terbentuk dari berbagai komponen. Salah satunya adalah yang membentuk wajah seseorang, termasuk sebuah senyuman.

Sebagai klinisi dokter gigi yang bertugas merawat salah satu aset itu selama kurang lebih hampir lima tahun, saya cukup sering dibuat lama merenung.

Renungan akan sebuah arti kecantikan senyuman itu tidak pernah terlepas dari pengalaman saya bertemu dengan banyak pasien wanita. Mereka semua memiliki banyak pendapat akan parameter dan makna dari sebuah kecantikan senyuman.

Cantik itu kosmetik, tidak hanya estetik. Saya rasa itu adalah salah satu parameter yang mungkin hampir disetujui oleh sebagian besar orang. Konsep estetika dalam profesi saya akan memiliki makna yang berbeda dengan konsep kosmetika.

Senyum wanita dengan gigi depan yang lengkap dan sehat akan terlihat lebih cantik dibandingkan senyum wanita dengan gigi depan yang berlubang. Namun, sudah menjadi sifat dasar manusia bahwa manusia selalu memiliki keinginan yang sempurna, selalu tidak puas dengan kondisi yang ada.

Jika ada yang lebih putih, bentuk yang lebih bagus, susunan yang lebih rapi, mengapa tidak? Dari sini lahirlah sebuah konsep bernama kosmetika, bukan hanya soal estetika semata.

Cantik itu mahal. Sebuah pernyataan yang terdengar sangat klise, tetapi nyata adanya. Jika ingin mendapatkan konsep cantik dari segi kosmetika, maka tak jarang bagi para wanita untuk rela berkorban menghabiskan uang yang tak sedikit.

Perawatan gigi dan mulut tak akan cukup membutuhkan uang yang hanya ratusan ribu. Jika para wanita ini menginginkan kesempurnaan senyum, uang jutaan hingga ratusan juta wajib tersedia untuk membayar segala kebutuhan jasa perawatan gigi.

Hal ini menyebabkan timbulnya sebuah kesenjangan bahwa cantik hanya milik wanita yang mampu membayar.     

Ada sebuah fenomena menarik yang terjadi di negara saya. Definisi kecantikan senyum ini menjadi lahan basah tersendiri bagi para oknum yang tidak bertanggung jawab.

Kosmetik sebuah senyuman bukanlah milik profesi dokter gigi semata, tetapi banyak sekali praktisi ilegal yang ikut meramaikan penawaran jasa mulai dari tukang gigi keliling, tukang gigi praktik, salon gigi, jasa panggilan hingga praktik dokter gigi palsu sudah menjadi profesi yang menjamur di tanah merah putih ini.

Belum banyak masyarakat yang memahami hal ini, termasuk para pemegang kebijakan di tanah air ini. Belum adanya ketegasan sanksi dan pengawasan yang ketat membuat praktik ilegal yang terselenggara seolah sudah menjadi hal yang legal dan biasa.

Saya sering berpikir, mengapa sebenarnya bisa demikian?

Urusan senyum dan kosmetikanya ini memang tidak menimbulkan bahaya yang besar dan masif. Ya, tidak seperti halnya urusan perdukunan bayi yang mampu menghilangkan sebuah nyawa dalam sekejap, jika dilakukan secara keliru dalam hal standar prosedur medis.

Urusan pergigian ini mungkin akan berdampak jangka panjang kelak, dampak yang merusak bahkan bisa mengancam nyawa. Hal inilah yang menyebabkan urusan pergigian ini masih menjadi anak tiri bagi para pemegang kebijakan kesehatan di negara saya.

Banyak pasien korban layanan kosmetika senyum abal-abal ini yang tidak bisa berbuat apa-apa setelah menerima dampaknya. Mereka pada awalnya akan sangat bangga dengan warna putih cemerlang yang didapat dari veneer salon gigi secara instan dengan harga murah.

Namun, beberapa minggu atau bulan setelahnya, mereka akan datang ke dokter gigi karena gusinya bernanah. Tak ada pilihan lain, selain harus menerima kerusakan permanen senyum yang awalnya indah natural menjadi cacat permanen.

Gigi depan sudah pasti rusak tak bisa dikembalikan lagi atau mungkin harus dicabut. Keindahan senyum yang sejatinya sudah ada akan lenyap dalam sekejap, hanya karena mengejar sebuah kesempurnaan.

Urusan praktik ilegal ini adalah urusan yang begitu panjang. Banyak perjuangan yang memang harus dilakukan, khususnya diawali dari profesi dokter gigi di negara ini. Walaupun demikian, tidak berarti tidak ada sama sekali yang bisa dilakukan.

Saya sebagai bagian kecil dari profesi ini, memilih berjuang untuk terus mengedukasi pada para pasien yang saya temui. Saya, seorang dokter gigi wanita yang selalu bersuara, bahwa memiliki estetika senyum itu jauh lebih berharga daripada sibuk dengan kosmetika senyum.

Jika Anda tidak mampu meraih sesuatu yang lebih sempurna maka cukupkan saja mensyukuri senyum sehat dan bersih yang sudah Anda miliki.   

Penulis: Nama lengkap saya Aulia Rizqi Nurdiana, biasa menulis dengan nama pena Aulia Gerimis. Pekerjaan sebagai dokter gigi dan sangat cinta dengan dunia literasi. Besar dan lahir di keluarga Jawa dan sangat kagum pada sosok Kartini.