Menjadi Ibu Rumah Tangga, Mengapa Tidak?

Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan kawan-kawan masa kecilku ketika aku menghadiri undangan Reuni Akbar HUT ke-25 Sekolah Menengah Pertama (SMP), tempat aku belajar dulu di Bandung.

Mereka adalah sahabat-sahabatku dari sekolah dasar hingga masa perkuliahan. Dari kami berlima, hanya aku yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Keempat kawanku merupakan wanita karier sekaligus ibu rumah tangga.

Dalam obrolan ringan di suatu coffeeshop, kami melepas rindu dan saling berkomentar tentang kehidupan kami saat ini.

Ada satu komentar mereka yakni tentang cara  dan pilihan hidupku, yang kemudian menjadi bahan renunganku sekian lama. Bahkan aku sempat mempertanyakan pilihan hidupku dan kehilangan rasa percaya diri. 

“Kami tidak menyangka bahwa kamu hanya seorang ibu rumah tangga. Kamu melepaskan kesempatanmu untuk bertemu dunia yang lebih luas. Kesempatan untuk berbagi dan menjadikan hidupmu berarti bagi orang lain. Padahal kamulah yang memiliki prestasi akademik paling tinggi di antara kami. Sayang sekali!”

Oalah, seperti itukah?  

Terlepas apakah maksud ucapan itu sebagai bentuk kepedulian atau perhatian mereka terhadap hidupku tetapi sadarkah mereka betapa luar biasanya dampak perkataan itu terhadapku?

Aku telah memilih menjadi seorang ibu rumah tangga biasa dan mengabdikan hidupku demi suami dan kedua anakku.

Untuk beberapa waktu, aku mengalami krisis identitas dan kehilangan  kepercayaan diri hingga level terendah. Aku urung menghadiri Reuni Akbar Sekolah Menengah Atas (SMA), tempat aku belajar dulu. Aku masih dihantui rasa takut jika semua yang aku temui akan bertanya, kerja di mana?  

Selain menjadi ibu dari anak-anakku dan istri dari suamiku, aku ini apa dan siapa?

Aku mulai merunut ke belakang dan merenungi semua keputusan yang telah kuambil dalam hidupku.   

Apakah aku menyesal menjadi seorang istri? Tidak.

Aku bersyukur tidak habis-habisnya bahwa aku bisa menjalani hari-hariku bersama orang yang kucintai dan dia mencintaiku.

Seseorang yang memberikan namanya untuk aku sandang dan menafkahiku lahir batin. Aku percaya, kami berdua saling mempengaruhi dan melengkapi satu sama lain, hingga menjadi diri kami saat ini. 

Pekerjaan suamiku membuat kami harus berpindah dan menetap di beberapa kota berbeda. Ini membuatku mengenal kehidupan dan kebudayaan lain selain tanah kelahiranku. Ini adalah keinginanku menjadi isterinya.   

Apakah aku menyesal melepaskan pekerjaanku sebagai seorang guru demi mengikuti suami dan membesarkan anak-anakku? Tidak.

Aku bisa mengikuti perkembangan anak-anak melalui fase-fase hidupnya. Itu adalah sebuah anugerah.

Bagaimana aku bisa mendengar kata pertama yang mereka ucapkan, melihat gigi pertama mereka tumbuh, berada di samping mereka ketika mereka sakit dan saat mereka membutuhkan pelukan.

Tak ada yang dapat menggantikan momen-momen itu. Tak akan pernah terulang.  

Apakah studi yang aku tempuh sia-sia? Tidak.

Kasih sayang seorang ibu adalah sebuah naluri. Tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang ibu yang baik.

Namun pengetahuan dan kedewasaan mentalku yang diperoleh selama masa pendidikan, memiliki andil terhadap caraku memberi pengertian dan mendidik kedua anakku. 

Apakah hidupku menjadi tidak berarti bagi banyak orang? Pikiran yang salah.

Sekolah karakter pertama adalah  rumah. Dari rumah segalanya bermula. Buat apa berarti bagi orang lain sementara kita seolah tidak berarti bagi suami dan anak-anak?

Ibarat hidup serupa jejeran kartu domino yang disusun berjejer. Kartu-kartu domino yang aku sentuh akan menjatuhkan kartu-kartu di depannya. Ini merepresentasikan suami, anak-anak  dan orang-orang yang mereka temui.

Ketika kasihku menyentuh suami dan anak-anakku, mereka akan membagi kasih itu menjadi kebaikan di luar, di kantor dan sekolah mereka juga pada semua yang mereka temui.

Orang-orang yang mendapatkan kebaikan dari suami dan anak-anakku akan meneruskannya kepada orang lain yang  mereka temui selanjutnya. And the gift goes on.

Siapa bilang aku tidak berarti bagi banyak orang?

Apakah aku terkekang dan tidak merdeka? Aku merdeka menjadi diriku sendiri di dalam rumahku.

Kehidupan sehari-hari di rumah ini seutuhnya adalah kebijakanku. Aku menikmati kesibukanku menemani anak-anak belajar, bermain, menjadi tempat mereka mengadu dan mencari saran.

Aku menikmati peranku menjadi seseorang untuk suamiku yang menceritakan hal-hal yang tak bisa diceritakannya di luar.

Aku menikmati caraku mengatur rumah dan mengatur keuangan.

Aku menikmati caraku memilih menu makan kami sepanjang hari.

Dan aku merdeka menikmati waktu luangku menjadi diriku sendiri.

Pada akhirnya, suami dan anak-anakku yang mendorongku menekuni hobi dan kecintaanku yakni menulis.

Aku harap, sahabat-sahabatku membaca tulisanku ini.

Aku bahagia dan merdeka menjadi diriku.

Penulis: Yuliani Kumudaswari, lahir di Bandung dan saat ini menetap di Semarang bersama suami dan  dua orang putri. Sebagai ibu rumah tangga, Yuliani aktif menulis puisi dan cerpen yang beberapa di antaranya tergabung dalam sejumlah antologi. Antologi Puisi Tunggal  terbaru “Kembang Belukar” (Tonggak Pustaka, Jogja  2021). Email : kumudaswariyuliani@gmail.com.