Janda dan Kesadaran Estetika Sosial

Kita tentu pernah mendengar selentingan, bahwa perempuan berdandan adalah dalam rangka menarik syahwat lelaki. Sering pula tuduhan itu datang dari sesama perempuan. Sedih kan? 

Jika yang berdandan itu seorang janda, apalagi janda muda, terbayang seperti apa gosip dan sas sus perihal itu?

Saya pernah ada di posisi tersebut. Sungguh tidak nyaman sebagai perempuan ketika harus menyandang gelar ‘Janda’.  

Di negeri ini predikat  janda  adalah aib, entah itu janda mati atau janda cerai. Tak heran banyak perempuan memilih menjadi seorang nyonya daripada memilih status janda. Alasannya banyak: kemapanan finansial, status sosial, dan demi anak-anak.

Celakanya, saya pernah mengalami dua-duanya: janda meninggal dan janda cerai.

Tetapi kasus berdandan ini adalah kasus lama, saat saya masih kinyis-kinyis, 24 tahun. Bayangkan, semuda itu sudah menjadi janda. 

Saat itu bayi kami berusia tiga tahun, suami  meninggal setelah berbulan-bulan keluar masuk rumah sakit karena kanker usus.

Betapa mudanya.

Betapa masih culun saya ketika harus membuat keputusan-keputusan penting dengan satu anak yang rindu figur ayah.

Estetika Sosial di Kantor

Sebagai orang kantoran, untuk menghormati diri tentu harus berdandan seperlunya. Ketika itu saya hanya menggunakan gincu dan pinsil alis setelah tujuh hari kepergian suami dan saya harus ngantor lagi tetapi apa yang terjadi?

Seorang teman di kantor menegur, “Sebaiknya sebelum seratus hari suami meninggal, jangan berdandan!”

Muka saya  merah seketika. Dalam kepala saya sudah terkumpul kalimat-kalimat kemarahan yang hendak saya lemparkan, namun pikiran lain meredam saya.

Di dalam otak saya yang masih muda pun saat itu, saya telah memiliki kesadaran estetika sosial atas diri. Bahwa saya berdandan adalah soal kepantasan penampilan di depan umum. 

Berdandan adalah untuk menghargai diri sendiri, bukan untuk bergenit-genit supaya dilirik lelaki. 

Kesadaran estetika sosial itu dari mana datangnya? Selain edukasi tentu adalah keluarga dan yang paling berpengaruh adalah pergaulan.

Istilah yang tepat untuk itu adalah apa yang kita lihat, standar kepatutan yang menjadi ukuran nilai dan norma.

Perempuan yang hidup di kampung tentu beda dengan orang yang hidup di kota besar dalam menilai sesuatu. Misal,  gincu warna shocking pink yang dianggap keren tetapi beberapa kalangan menilai itu berlebihan.

Atau baju warna berkilau itu cantik bagi warga Semambung, tapi  orang kota malah beramai-ramai memakai ecoprint yang kucel, dekil, kaya gombal amoh kata wong ndeso. Ini fakta yang saya alami.

Kesadaran estetika sosial turut menentukan apa yang pantas kita lakukan di ranah publik, misal berbelanja dengan rambut masih tergulung rol, menerima tamu dengan daster yukensi, menggunakan baju tidur di restoran hotel,  menyusui bayi  di angkot, atau mencungkil selilit di ruang tunggu.

Setiap orang, apakah dia lelaki atau perempuan tentu harus memiliki kesadaran ini, bukan untuk tujuan dipuji melainkan demi menghargai diri sendiri.

Dengan kesadaran yang sama, saya harus menggunakan gincu dan pinsil alis dengan alasan: pertama,  bibir saya pucat jika tak bergincu. Jika tidak bergincu, saya akan menyerupai zombie yang butuh minum darah.

Kedua, alis saya tipis. Jika tanpa pinsil alis dari jarak beberapa meter saya akan terlihat seperti makluk aneh. Wajah tanpa alis itu menyeramkan bagi saya.

Saya kenakan pinsil alis  dan pemerah bibir dengan tujuan agar penampilan saya tidak menakutkan, tidak menimbulkan rasa kasihan, dan tidak menimbulkan rasa enggan.

Apakah seorang janda-  apalagi janda mati-  tidak diperbolehkan berdandan dengan tujuan-tujuan di atas?

Apakah sekedar memenuhi standar estetika sosial?  

Sebenarnya bekerja tanpa riasan boleh-boleh saja karena setiap diri memiliki kemerdekaan untuk menentukan ia akan tampil seperti apa. Tampilan kita di depan publik adalah pilihan kita, tetapi ingat bahwa ada hal-hal yang harus dipertimbangkan menyangkut penampilan.

Lebih-lebih jika kita bekerja di kantor dengan brand yang baik, penampilan karyawan yang baik menjadi titik penting bagi image kantor itu. Dengan demikian, pilihan bekerja di kantor juga memiliki konsekuensi-konsekuensi sosial menyangkut etis tidaknya kita menampilkan diri.

Penguasa Tubuh

Menjadi perempuan merdeka itu bukan sekedar boleh memperlakukan dirinya sesuka-sukanya. Tubuh ini milikku, kau mau apa? Tidak begitu.

Perempuan merdeka tentu akan mematut diri baik secara fisik maupun non fisik dengan kepantasan yang terjaga.

Berdandan seperlunya, tidak over expose terhadap dirinya.

Berpakaian sepantasnya, tidak berlebihan hingga menimbulkan banyak perhatian, atau kerumitan diri yang berbuntut bahaya.

Saya pernah melihat seorang perempuan terjatuh dari motor karena pakaiannya menjuntai ke roda motor.  

Merdekalah.

Kuasai tubuhmu.

Maksimalkan penampilanmu. Namun ingat, kita wajib bertanggung jawab atas tubuh kita sendiri.

Penulis: Wina Bojonegoro adalah Pendiri Perlima, penerima Anugerah Sabda Budaya Sastra Univ. Brawijaya ( 2018), Penghargaan Beritajatim.com ( 2021), Aktris Terbaik LDLK ( 1988). Dia telah menulis cerpen di berbagai media cetak nasional sejak 1988 (Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Pertiwi, Surabaya Pos, Radar Surabaya, Bali Pos, dll ) melahirkan lebih dari 20 buku baik solo maupun antologi. Medsos: IG @winabojonegoro |FB: Wina Wibowo Bojonegoro | twitter: @wina108 website: www.winabojonegoro.com