Bos Perempuan

“Males punya bos perempuan, sukanya merintah-merintah saja, bossy, tapi nggak becus kerja?”

“Bos perempuan itu nggak enak, kurang netral. Bila mengambil keputusan suka pakai perasaan.”

“Bos perempuan sama dengan cerewet.”

Itu kesan para pekerja perempuan (termasuk saya awalnya), bila harus punya bos perempuan. Belum kerja bareng saja, sudah terbayang bagaimana tersiksanya saya punya bos perempuan.

Suatu hari, salah satu kenalan yang tergabung dalam grup Whatsapp ibu-ibu cetar wali murid sekolah anak saya curhat sambi pasang emoticon menangis. Bosnya laki-laki yang baik hati tetiba dipindahkan ke Jakarta dan digantikan oleh bos perempuan.

Deskripsi yang disampaikan teman saya secara spesifik membuat saya memiliki kesan bahwa bosnya adalah the killer lady, STW (setengah tuwa), janda, pernikahannya yang terdahulu tidak membuatnya bahagia, anak-anaknya bermasalah, temperamen, dan suka memerintah.

Ia pun curhat habis karena setiap saat selalu berseteru dengan bosnya tersebut. Hingga puncaknya, teman saya stres dan keguguran.

Di sisi lain, saya sedang melakukan wawancara kerja di sebuah lembaga internasional dan bisa dipastikan calon bos saya ke depan adalah perempuan. Sebulan kemudian saya dikabari melalui telepon bahwa saya diterima.

Keringat dingin saya bercucuran membayangkan akan bekerja dengan the killer lady seperti yang dialami kenalan saya. Padahal pekerjaan ini sebenarnya adalah impian saya, apalagi dengan gaji yang menggiurkan.

Kembali ke topik bos perempuan. Tempat saya bekerja, sebuah lembaga internasional yang fokus dalam bidang pendidikan, telah melakukan survei dampak kepala sekolah perempuan di beberapa provinsi di Indonesia.

Hasilnya bahwa kepala sekolah perempuan lebih jujur dalam hal pengelolaan keuangan sekolah. Keputusan strategis yang diambil oleh kepala sekolah perempuan juga selalu melibatkan banyak pihak karena pemimpin perempuan biasanya tidak semerta-merta mengambil keputusan sepihak.

Kepala sekolah perempuan juga lebih bisa mengayomi dan bertindak adil. Pemimpin perempuan sejatinya lebih memberikan perasaan yang nyaman pada lingkungan tempatnya bekerja.

Begitulah ternyata saya memiliki kesan yang positif pada bos perempuan saya. Sayangnya kontrak lembaga tempat saya bekerja dengan pemerintah Indonesia harus selesai dan kantor ditutup. Bos saya pun kembali ke tanah kelahirannya, Makassar.

Saya kembali berburu pekerjan baru, kali ini saya diterima di sebuah lembaga internasional lainnya dengan pemimpin laki-laki. Saya selalu memiliki imej baik pada bos laki-laki sejak awal bekerja.

Bos laki-laki di pekerjaan baru saya ini doyan makan, senang sekali ngerumpi dan menceritakan kejelekan staf lainnya kepada saya.

Hello, ini bos laki-laki ya, catat! Laki-laki ternyata juga suka ngerumpi.

Bagi saya yang tidak terlalu suka bergosip, saya merasa risih bila harus didekati si bos dan diajak ngerumpi. Saya akhirnya menyerah pada si bos laki-laki ini dan pindah ke pekerjaan lain di mana bosnya adalah perempuan.

Sebenarnya perempuan bisa berbuat lebih dari sekadar tukang mengelola uang atau juru tulis notulen rapat. Perempuan tidak mengedepankan emosi dalam memimpin, tidak suka pamer kekuasaan, dan justru lebih amanah dalam hal pengelolaan keuangan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Sudipta Sarangi, profesor dan kepala departemen ekonomi di Virginia Tech yang dipublikasikan di Science Daily mengungkapkan, bila perempuan lebih banyak dilibatkan dalam ranah pemerintahan, pemimpin wilayah maupun manajerial, maka dapat memberikan dampak pada turunnya tingkat korupsi.

Perempuan mengambil kebijakan yang berbeda bila dibandingkan kaum laki-laki, di mana perempuan cenderung memilih kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan perempuan, anak-anak, serta keluarga.

Jadi, apakah bos perempuan itu selalu menyebalkan? Saya kini menjawab tidak!

Jangan menyamakan persepsi bahwa bos perempuan sama dengan cerewet, menyebalkan, suka ngerumpi, tak bisa kerja, dan sederet hal negatif lainnya! Karena sifat-sifat tersebut bisa pula melekat pada bos laki-laki.

Bila kebetulan punya bos perempuan yang cerewet dan suka ngerumpi maka jangan diberi tambahan embel-embel ‘perempuan’ di belakang kata bos. Bagaimana pun sikap negatif tersebut adalah sifat personal, bukan karena fisiknya.

Penulis: Dian Kusuma Dewi, bekerja sebagai konsultan komunikasi pendidikan di lembaga internasional yang bisa dikontak di FB: diankd atau IG: diandastan. Melalui artikel ini berharap bahwa mindset masyarakat tentang pemimpin perempuan di Indonesia yang masih dianggap tidak sesuai dengan kultur dan norma agama dapat berubah. Di Indonesia sendiri khususnya di dunia pendidikan Islam, kepala sekolah perempuan hanya sekitar 20%. Perempuan juga belum banyak mendapatkan kepercayaan untuk memimpin sebuah wilayah/dalam konteks manajerial dalam pemerintahan, terutama di wilayah dengan kultur patriarki yang kuat.