Penguasaan Tubuh Perempuan dalam Belenggu Patriarki

Sudah 76 tahun, Agustus menjadi bulan yang sakral bagi bangsa Indonesia. Di bulan inilah bendera merah putih dikibarkan secara serentak di pelosok nusantara.

Dengan gembira, seluruh rakyat memeriahkan pesta besar memperingati hari lahirnya Negara Republik Indonesia dan merayakan kemenangan melawan penjajah dengan gegap gempita.

Namun sayangnya, perempuan Indonesia masih belum merdeka dari belengu patriarki yang menjajah tubuh perempuan dan menjadikannya milik publik.

Otoritas perempuan akan tubuhnya sendiri dikebiri oleh negara, institusi agama dan adat, serta norma dan nilai dalam masyarakat. Dalam kerangka 76 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia, perempuan sama sekali belum merdeka untuk memiliki tubuhnya sendiri.

Di tengah pandemi Covid-19 yang tidak kunjung usai, pada awal tahun ini kita mendapati kasus pemaksaan pakaian seragam sekolah dengan atribut agama tertentu kepada seorang siswi di Sumatera Barat.

Berita yang sempat viral selama beberapa minggu tersebut akhirnya direspon oleh Pemerintah lewat dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri.

Sayangnya inisiatif ini tidak berakhir gembira.

Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat menggugat SKB tersebut ke Mahkamah Agung. Hasilnya seperti yang sudah diduga, gugatan tersebut dikabulkan dan SKB ini pun dibatalkan.

Dalam siaran berita tanggal 27 Januari 2021, KomNas Perempuan mencatat ada 62 peraturan daerah di 15 propinsi yang mengatur cara berpakaian menurut agama tertentu, khususnya bagi para perempuan.

Kasus ini adalah satu dari banyak kasus di mana tekanan sosial adalah bentuk kontrol yang memasung otonomi perempuan dalam kepemilikan tubuh.

Cercaan kepada mereka yang tidak berpakaian sesuai dengan ‘norma’ dan ‘nilai’ yang berlaku dalam masyarakat kini semakin bebas terlontar lewat media sosial.

Perempuan pun dihakimi secara brutal karena ketidakpatuhannya terhadap ‘norma ketimuran’ dan ‘nilai agama’ yang ditentukan dalam kerangka patriarki.

Saya kemudian teringat akan sebuah puisi yang dibacakan oleh Ifa Misbach yang berjudul “Tuhan, Aku Bertanya Pada-Mu” dalam sebuah pertemuan daring April 2021 lalu.

Lewat puisinya Ifa mengungkapkan kegelisahan hatinya ketika didera tekanan sosial bertahun-tahun yang memaksanya berjilbab. Perundungan moral yang dialaminya mendorongnya untuk bercerita kepada Tuhan-nya.

Di Indonesia, di mana budaya patriarki sangat mengakar dan terlembaga, pemaknaan atas tubuh perempuan terbentuk sebagai akibat dari relasi kuasa yang timpang.

Pada umumnya perempuan tidak dilibatkan dalam proses penafsiran konsep dan pemaknaan, serta pendefinisian dan penentuan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Hak dan akses langsung terhadap proses tersebut kerap harus melalui pemikiran dan tubuh laki-laki yang dianggap lebih berkuasa dan berpengaruh.

Kuatnya budaya patriarki di Indonesia menjadikan masyarakat yang misoginis di mana pendapat, keputusan, dan kepentingan yang menguntungkan laki-lakilah yang kemudian menjadi norma dan nilai yang ‘sewajarnya’ dijunjung tinggi oleh semua.

Perempuan harus mengubur dan mengesampingkan hak dan otoritasnya dalam memiliki tubuhnya sendiri atas nama budaya, agama, dan standar moralitas yang ditentukan oleh laki-laki.

Pada akhirnya, perempuan pun hanya menjadi obyek penderita dari tafsir dominan dan pelaku pasif dari keputusan otoritatif yang telah mengesampingkan eksistensi mereka dalam mengendalikan serta mengontrol kehidupan dan tubuhnya.

Dalam kerangka patriarki, di mana norma laki-laki dianggap sebagai simpul tunggal hubungan sosial, kemerdekaan perempuan dalam memaknai eksistensi dirinya telah direnggut dengan paksa.

Makna ‘tertinggi’, ‘tersuci’ ataupun ‘terindah’ dari tubuh perempuan hanyalah sebatas pengejawantahan paling sempurna dari imajinasi laki-laki belaka.

Selama 76 tahun Indonesia merdeka, pernahkah kita bertanya apakah segenap bangsa ini sudah benar-benar merdeka ataukah ada yang masih terjajah?

Kemerdekaan perempuan dalam memaknai dan menguasai tubuhnya sendiri masih terkungkung dalam kerangka patriarki, terlebih ketika dilembagakan dalam sebuah negara Indonesia, yang hari lahirnya selalu kita rayakan dengan meriah.

Sejarah kita melupakan pengorbanan tubuh-tubuh perempuan yang selalu menjadi medan peperangan dalam kontestasi politik bernegara.

Sampai sekarang, kasus pemerkosaan masal Mei 1998 belum juga menemui titik terang, bahkan ada kaum elit yang tega menuduh bahwa peristiwa ini hanyalah bualan belaka.

Patriarki yang menjelma dalam bentuk negara kerap menjajah tubuh perempuan untuk mengendalikan masyarakatnya.

Pada akhirnya dalam merefleksikan Hari Kemerdekaan ini, kita harus kembali kepada pemikiran Julia Suryakusuma, seorang feminis yang karyanya menjadi kanon feminisme Indonesia. Dalam teori Ibuisme Negara, tubuh perempuan kerap menjadi alat negara untuk mencapai tujuannya.

Jika kita berpartisipasi baik langsung maupun tidak dalam mengendalikan tubuh perempuan, dalam bentuk mengatur pakaiannya, memaksakan alat kontrasepsi padanya, mengharuskannya hamil dan melahirkan anak penerus bangsa, melarangnya aborsi akibat perkosaan, atau membatasi mimpi dan ambisinya dengan dalih kodrat perempuan, maka kita turut andil dalam menjajah perempuan Indonesia dan merenggut kemerdekaannya. 

Penulis: Vinny Flaviana yang sekarang berdomisili di kota Murcia, Spanyol. Kesibukan sehari-harinya, dia sedang menyelesaikan program doktoral, belajar bahasa spanyol dan terlibat dalam kegiatan virtual bersama dengan komunitas orang Indonesia di Spanyol. Dia punya hobi membaca yang senang berburu buku-buku bekas di  toko buku daring dan toko-toko buku bekas. Sekarang ini, dia sedang tertarik membaca buku-buku penulis perempuan dari India, Afghanistan dan tentunya penulis Indonesia. Dia dapat dijumpai di IG: vinnyflaviana.