Bos Perempuan

“Males punya bos perempuan, sukanya merintah-merintah saja, bossy, tapi nggak becus kerja?”

“Bos perempuan itu nggak enak, kurang netral. Bila mengambil keputusan suka pakai perasaan.”

“Bos perempuan sama dengan cerewet.”

Itu kesan para pekerja perempuan (termasuk saya awalnya), bila harus punya bos perempuan. Belum kerja bareng saja, sudah terbayang bagaimana tersiksanya saya punya bos perempuan.

Suatu hari, salah satu kenalan yang tergabung dalam grup Whatsapp ibu-ibu cetar wali murid sekolah anak saya curhat sambi pasang emoticon menangis. Bosnya laki-laki yang baik hati tetiba dipindahkan ke Jakarta dan digantikan oleh bos perempuan.

Deskripsi yang disampaikan teman saya secara spesifik membuat saya memiliki kesan bahwa bosnya adalah the killer lady, STW (setengah tuwa), janda, pernikahannya yang terdahulu tidak membuatnya bahagia, anak-anaknya bermasalah, temperamen, dan suka memerintah.

Ia pun curhat habis karena setiap saat selalu berseteru dengan bosnya tersebut. Hingga puncaknya, teman saya stres dan keguguran.

Di sisi lain, saya sedang melakukan wawancara kerja di sebuah lembaga internasional dan bisa dipastikan calon bos saya ke depan adalah perempuan. Sebulan kemudian saya dikabari melalui telepon bahwa saya diterima.

Keringat dingin saya bercucuran membayangkan akan bekerja dengan the killer lady seperti yang dialami kenalan saya. Padahal pekerjaan ini sebenarnya adalah impian saya, apalagi dengan gaji yang menggiurkan.

Kembali ke topik bos perempuan. Tempat saya bekerja, sebuah lembaga internasional yang fokus dalam bidang pendidikan, telah melakukan survei dampak kepala sekolah perempuan di beberapa provinsi di Indonesia.

Hasilnya bahwa kepala sekolah perempuan lebih jujur dalam hal pengelolaan keuangan sekolah. Keputusan strategis yang diambil oleh kepala sekolah perempuan juga selalu melibatkan banyak pihak karena pemimpin perempuan biasanya tidak semerta-merta mengambil keputusan sepihak.

Kepala sekolah perempuan juga lebih bisa mengayomi dan bertindak adil. Pemimpin perempuan sejatinya lebih memberikan perasaan yang nyaman pada lingkungan tempatnya bekerja.

Begitulah ternyata saya memiliki kesan yang positif pada bos perempuan saya. Sayangnya kontrak lembaga tempat saya bekerja dengan pemerintah Indonesia harus selesai dan kantor ditutup. Bos saya pun kembali ke tanah kelahirannya, Makassar.

Saya kembali berburu pekerjan baru, kali ini saya diterima di sebuah lembaga internasional lainnya dengan pemimpin laki-laki. Saya selalu memiliki imej baik pada bos laki-laki sejak awal bekerja.

Bos laki-laki di pekerjaan baru saya ini doyan makan, senang sekali ngerumpi dan menceritakan kejelekan staf lainnya kepada saya.

Hello, ini bos laki-laki ya, catat! Laki-laki ternyata juga suka ngerumpi.

Bagi saya yang tidak terlalu suka bergosip, saya merasa risih bila harus didekati si bos dan diajak ngerumpi. Saya akhirnya menyerah pada si bos laki-laki ini dan pindah ke pekerjaan lain di mana bosnya adalah perempuan.

Sebenarnya perempuan bisa berbuat lebih dari sekadar tukang mengelola uang atau juru tulis notulen rapat. Perempuan tidak mengedepankan emosi dalam memimpin, tidak suka pamer kekuasaan, dan justru lebih amanah dalam hal pengelolaan keuangan.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Sudipta Sarangi, profesor dan kepala departemen ekonomi di Virginia Tech yang dipublikasikan di Science Daily mengungkapkan, bila perempuan lebih banyak dilibatkan dalam ranah pemerintahan, pemimpin wilayah maupun manajerial, maka dapat memberikan dampak pada turunnya tingkat korupsi.

Perempuan mengambil kebijakan yang berbeda bila dibandingkan kaum laki-laki, di mana perempuan cenderung memilih kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan perempuan, anak-anak, serta keluarga.

Jadi, apakah bos perempuan itu selalu menyebalkan? Saya kini menjawab tidak!

Jangan menyamakan persepsi bahwa bos perempuan sama dengan cerewet, menyebalkan, suka ngerumpi, tak bisa kerja, dan sederet hal negatif lainnya! Karena sifat-sifat tersebut bisa pula melekat pada bos laki-laki.

Bila kebetulan punya bos perempuan yang cerewet dan suka ngerumpi maka jangan diberi tambahan embel-embel ‘perempuan’ di belakang kata bos. Bagaimana pun sikap negatif tersebut adalah sifat personal, bukan karena fisiknya.

Penulis: Dian Kusuma Dewi, bekerja sebagai konsultan komunikasi pendidikan di lembaga internasional yang bisa dikontak di FB: diankd atau IG: diandastan. Melalui artikel ini berharap bahwa mindset masyarakat tentang pemimpin perempuan di Indonesia yang masih dianggap tidak sesuai dengan kultur dan norma agama dapat berubah. Di Indonesia sendiri khususnya di dunia pendidikan Islam, kepala sekolah perempuan hanya sekitar 20%. Perempuan juga belum banyak mendapatkan kepercayaan untuk memimpin sebuah wilayah/dalam konteks manajerial dalam pemerintahan, terutama di wilayah dengan kultur patriarki yang kuat.

Penguasaan Tubuh Perempuan dalam Belenggu Patriarki

Sudah 76 tahun, Agustus menjadi bulan yang sakral bagi bangsa Indonesia. Di bulan inilah bendera merah putih dikibarkan secara serentak di pelosok nusantara.

Dengan gembira, seluruh rakyat memeriahkan pesta besar memperingati hari lahirnya Negara Republik Indonesia dan merayakan kemenangan melawan penjajah dengan gegap gempita.

Namun sayangnya, perempuan Indonesia masih belum merdeka dari belengu patriarki yang menjajah tubuh perempuan dan menjadikannya milik publik.

Otoritas perempuan akan tubuhnya sendiri dikebiri oleh negara, institusi agama dan adat, serta norma dan nilai dalam masyarakat. Dalam kerangka 76 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia, perempuan sama sekali belum merdeka untuk memiliki tubuhnya sendiri.

Di tengah pandemi Covid-19 yang tidak kunjung usai, pada awal tahun ini kita mendapati kasus pemaksaan pakaian seragam sekolah dengan atribut agama tertentu kepada seorang siswi di Sumatera Barat.

Berita yang sempat viral selama beberapa minggu tersebut akhirnya direspon oleh Pemerintah lewat dikeluarkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri.

Sayangnya inisiatif ini tidak berakhir gembira.

Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat menggugat SKB tersebut ke Mahkamah Agung. Hasilnya seperti yang sudah diduga, gugatan tersebut dikabulkan dan SKB ini pun dibatalkan.

Dalam siaran berita tanggal 27 Januari 2021, KomNas Perempuan mencatat ada 62 peraturan daerah di 15 propinsi yang mengatur cara berpakaian menurut agama tertentu, khususnya bagi para perempuan.

Kasus ini adalah satu dari banyak kasus di mana tekanan sosial adalah bentuk kontrol yang memasung otonomi perempuan dalam kepemilikan tubuh.

Cercaan kepada mereka yang tidak berpakaian sesuai dengan ‘norma’ dan ‘nilai’ yang berlaku dalam masyarakat kini semakin bebas terlontar lewat media sosial.

Perempuan pun dihakimi secara brutal karena ketidakpatuhannya terhadap ‘norma ketimuran’ dan ‘nilai agama’ yang ditentukan dalam kerangka patriarki.

Saya kemudian teringat akan sebuah puisi yang dibacakan oleh Ifa Misbach yang berjudul “Tuhan, Aku Bertanya Pada-Mu” dalam sebuah pertemuan daring April 2021 lalu.

Lewat puisinya Ifa mengungkapkan kegelisahan hatinya ketika didera tekanan sosial bertahun-tahun yang memaksanya berjilbab. Perundungan moral yang dialaminya mendorongnya untuk bercerita kepada Tuhan-nya.

Di Indonesia, di mana budaya patriarki sangat mengakar dan terlembaga, pemaknaan atas tubuh perempuan terbentuk sebagai akibat dari relasi kuasa yang timpang.

Pada umumnya perempuan tidak dilibatkan dalam proses penafsiran konsep dan pemaknaan, serta pendefinisian dan penentuan nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Hak dan akses langsung terhadap proses tersebut kerap harus melalui pemikiran dan tubuh laki-laki yang dianggap lebih berkuasa dan berpengaruh.

Kuatnya budaya patriarki di Indonesia menjadikan masyarakat yang misoginis di mana pendapat, keputusan, dan kepentingan yang menguntungkan laki-lakilah yang kemudian menjadi norma dan nilai yang ‘sewajarnya’ dijunjung tinggi oleh semua.

Perempuan harus mengubur dan mengesampingkan hak dan otoritasnya dalam memiliki tubuhnya sendiri atas nama budaya, agama, dan standar moralitas yang ditentukan oleh laki-laki.

Pada akhirnya, perempuan pun hanya menjadi obyek penderita dari tafsir dominan dan pelaku pasif dari keputusan otoritatif yang telah mengesampingkan eksistensi mereka dalam mengendalikan serta mengontrol kehidupan dan tubuhnya.

Dalam kerangka patriarki, di mana norma laki-laki dianggap sebagai simpul tunggal hubungan sosial, kemerdekaan perempuan dalam memaknai eksistensi dirinya telah direnggut dengan paksa.

Makna ‘tertinggi’, ‘tersuci’ ataupun ‘terindah’ dari tubuh perempuan hanyalah sebatas pengejawantahan paling sempurna dari imajinasi laki-laki belaka.

Selama 76 tahun Indonesia merdeka, pernahkah kita bertanya apakah segenap bangsa ini sudah benar-benar merdeka ataukah ada yang masih terjajah?

Kemerdekaan perempuan dalam memaknai dan menguasai tubuhnya sendiri masih terkungkung dalam kerangka patriarki, terlebih ketika dilembagakan dalam sebuah negara Indonesia, yang hari lahirnya selalu kita rayakan dengan meriah.

Sejarah kita melupakan pengorbanan tubuh-tubuh perempuan yang selalu menjadi medan peperangan dalam kontestasi politik bernegara.

Sampai sekarang, kasus pemerkosaan masal Mei 1998 belum juga menemui titik terang, bahkan ada kaum elit yang tega menuduh bahwa peristiwa ini hanyalah bualan belaka.

Patriarki yang menjelma dalam bentuk negara kerap menjajah tubuh perempuan untuk mengendalikan masyarakatnya.

Pada akhirnya dalam merefleksikan Hari Kemerdekaan ini, kita harus kembali kepada pemikiran Julia Suryakusuma, seorang feminis yang karyanya menjadi kanon feminisme Indonesia. Dalam teori Ibuisme Negara, tubuh perempuan kerap menjadi alat negara untuk mencapai tujuannya.

Jika kita berpartisipasi baik langsung maupun tidak dalam mengendalikan tubuh perempuan, dalam bentuk mengatur pakaiannya, memaksakan alat kontrasepsi padanya, mengharuskannya hamil dan melahirkan anak penerus bangsa, melarangnya aborsi akibat perkosaan, atau membatasi mimpi dan ambisinya dengan dalih kodrat perempuan, maka kita turut andil dalam menjajah perempuan Indonesia dan merenggut kemerdekaannya. 

Penulis: Vinny Flaviana yang sekarang berdomisili di kota Murcia, Spanyol. Kesibukan sehari-harinya, dia sedang menyelesaikan program doktoral, belajar bahasa spanyol dan terlibat dalam kegiatan virtual bersama dengan komunitas orang Indonesia di Spanyol. Dia punya hobi membaca yang senang berburu buku-buku bekas di  toko buku daring dan toko-toko buku bekas. Sekarang ini, dia sedang tertarik membaca buku-buku penulis perempuan dari India, Afghanistan dan tentunya penulis Indonesia. Dia dapat dijumpai di IG: vinnyflaviana.

Janda dan Kesadaran Estetika Sosial

Kita tentu pernah mendengar selentingan, bahwa perempuan berdandan adalah dalam rangka menarik syahwat lelaki. Sering pula tuduhan itu datang dari sesama perempuan. Sedih kan? 

Jika yang berdandan itu seorang janda, apalagi janda muda, terbayang seperti apa gosip dan sas sus perihal itu?

Saya pernah ada di posisi tersebut. Sungguh tidak nyaman sebagai perempuan ketika harus menyandang gelar ‘Janda’.  

Di negeri ini predikat  janda  adalah aib, entah itu janda mati atau janda cerai. Tak heran banyak perempuan memilih menjadi seorang nyonya daripada memilih status janda. Alasannya banyak: kemapanan finansial, status sosial, dan demi anak-anak.

Celakanya, saya pernah mengalami dua-duanya: janda meninggal dan janda cerai.

Tetapi kasus berdandan ini adalah kasus lama, saat saya masih kinyis-kinyis, 24 tahun. Bayangkan, semuda itu sudah menjadi janda. 

Saat itu bayi kami berusia tiga tahun, suami  meninggal setelah berbulan-bulan keluar masuk rumah sakit karena kanker usus.

Betapa mudanya.

Betapa masih culun saya ketika harus membuat keputusan-keputusan penting dengan satu anak yang rindu figur ayah.

Estetika Sosial di Kantor

Sebagai orang kantoran, untuk menghormati diri tentu harus berdandan seperlunya. Ketika itu saya hanya menggunakan gincu dan pinsil alis setelah tujuh hari kepergian suami dan saya harus ngantor lagi tetapi apa yang terjadi?

Seorang teman di kantor menegur, “Sebaiknya sebelum seratus hari suami meninggal, jangan berdandan!”

Muka saya  merah seketika. Dalam kepala saya sudah terkumpul kalimat-kalimat kemarahan yang hendak saya lemparkan, namun pikiran lain meredam saya.

Di dalam otak saya yang masih muda pun saat itu, saya telah memiliki kesadaran estetika sosial atas diri. Bahwa saya berdandan adalah soal kepantasan penampilan di depan umum. 

Berdandan adalah untuk menghargai diri sendiri, bukan untuk bergenit-genit supaya dilirik lelaki. 

Kesadaran estetika sosial itu dari mana datangnya? Selain edukasi tentu adalah keluarga dan yang paling berpengaruh adalah pergaulan.

Istilah yang tepat untuk itu adalah apa yang kita lihat, standar kepatutan yang menjadi ukuran nilai dan norma.

Perempuan yang hidup di kampung tentu beda dengan orang yang hidup di kota besar dalam menilai sesuatu. Misal,  gincu warna shocking pink yang dianggap keren tetapi beberapa kalangan menilai itu berlebihan.

Atau baju warna berkilau itu cantik bagi warga Semambung, tapi  orang kota malah beramai-ramai memakai ecoprint yang kucel, dekil, kaya gombal amoh kata wong ndeso. Ini fakta yang saya alami.

Kesadaran estetika sosial turut menentukan apa yang pantas kita lakukan di ranah publik, misal berbelanja dengan rambut masih tergulung rol, menerima tamu dengan daster yukensi, menggunakan baju tidur di restoran hotel,  menyusui bayi  di angkot, atau mencungkil selilit di ruang tunggu.

Setiap orang, apakah dia lelaki atau perempuan tentu harus memiliki kesadaran ini, bukan untuk tujuan dipuji melainkan demi menghargai diri sendiri.

Dengan kesadaran yang sama, saya harus menggunakan gincu dan pinsil alis dengan alasan: pertama,  bibir saya pucat jika tak bergincu. Jika tidak bergincu, saya akan menyerupai zombie yang butuh minum darah.

Kedua, alis saya tipis. Jika tanpa pinsil alis dari jarak beberapa meter saya akan terlihat seperti makluk aneh. Wajah tanpa alis itu menyeramkan bagi saya.

Saya kenakan pinsil alis  dan pemerah bibir dengan tujuan agar penampilan saya tidak menakutkan, tidak menimbulkan rasa kasihan, dan tidak menimbulkan rasa enggan.

Apakah seorang janda-  apalagi janda mati-  tidak diperbolehkan berdandan dengan tujuan-tujuan di atas?

Apakah sekedar memenuhi standar estetika sosial?  

Sebenarnya bekerja tanpa riasan boleh-boleh saja karena setiap diri memiliki kemerdekaan untuk menentukan ia akan tampil seperti apa. Tampilan kita di depan publik adalah pilihan kita, tetapi ingat bahwa ada hal-hal yang harus dipertimbangkan menyangkut penampilan.

Lebih-lebih jika kita bekerja di kantor dengan brand yang baik, penampilan karyawan yang baik menjadi titik penting bagi image kantor itu. Dengan demikian, pilihan bekerja di kantor juga memiliki konsekuensi-konsekuensi sosial menyangkut etis tidaknya kita menampilkan diri.

Penguasa Tubuh

Menjadi perempuan merdeka itu bukan sekedar boleh memperlakukan dirinya sesuka-sukanya. Tubuh ini milikku, kau mau apa? Tidak begitu.

Perempuan merdeka tentu akan mematut diri baik secara fisik maupun non fisik dengan kepantasan yang terjaga.

Berdandan seperlunya, tidak over expose terhadap dirinya.

Berpakaian sepantasnya, tidak berlebihan hingga menimbulkan banyak perhatian, atau kerumitan diri yang berbuntut bahaya.

Saya pernah melihat seorang perempuan terjatuh dari motor karena pakaiannya menjuntai ke roda motor.  

Merdekalah.

Kuasai tubuhmu.

Maksimalkan penampilanmu. Namun ingat, kita wajib bertanggung jawab atas tubuh kita sendiri.

Penulis: Wina Bojonegoro adalah Pendiri Perlima, penerima Anugerah Sabda Budaya Sastra Univ. Brawijaya ( 2018), Penghargaan Beritajatim.com ( 2021), Aktris Terbaik LDLK ( 1988). Dia telah menulis cerpen di berbagai media cetak nasional sejak 1988 (Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, Pertiwi, Surabaya Pos, Radar Surabaya, Bali Pos, dll ) melahirkan lebih dari 20 buku baik solo maupun antologi. Medsos: IG @winabojonegoro |FB: Wina Wibowo Bojonegoro | twitter: @wina108 website: www.winabojonegoro.com

Menjadi Ibu Rumah Tangga, Mengapa Tidak?

Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan kawan-kawan masa kecilku ketika aku menghadiri undangan Reuni Akbar HUT ke-25 Sekolah Menengah Pertama (SMP), tempat aku belajar dulu di Bandung.

Mereka adalah sahabat-sahabatku dari sekolah dasar hingga masa perkuliahan. Dari kami berlima, hanya aku yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Keempat kawanku merupakan wanita karier sekaligus ibu rumah tangga.

Dalam obrolan ringan di suatu coffeeshop, kami melepas rindu dan saling berkomentar tentang kehidupan kami saat ini.

Ada satu komentar mereka yakni tentang cara  dan pilihan hidupku, yang kemudian menjadi bahan renunganku sekian lama. Bahkan aku sempat mempertanyakan pilihan hidupku dan kehilangan rasa percaya diri. 

“Kami tidak menyangka bahwa kamu hanya seorang ibu rumah tangga. Kamu melepaskan kesempatanmu untuk bertemu dunia yang lebih luas. Kesempatan untuk berbagi dan menjadikan hidupmu berarti bagi orang lain. Padahal kamulah yang memiliki prestasi akademik paling tinggi di antara kami. Sayang sekali!”

Oalah, seperti itukah?  

Terlepas apakah maksud ucapan itu sebagai bentuk kepedulian atau perhatian mereka terhadap hidupku tetapi sadarkah mereka betapa luar biasanya dampak perkataan itu terhadapku?

Aku telah memilih menjadi seorang ibu rumah tangga biasa dan mengabdikan hidupku demi suami dan kedua anakku.

Untuk beberapa waktu, aku mengalami krisis identitas dan kehilangan  kepercayaan diri hingga level terendah. Aku urung menghadiri Reuni Akbar Sekolah Menengah Atas (SMA), tempat aku belajar dulu. Aku masih dihantui rasa takut jika semua yang aku temui akan bertanya, kerja di mana?  

Selain menjadi ibu dari anak-anakku dan istri dari suamiku, aku ini apa dan siapa?

Aku mulai merunut ke belakang dan merenungi semua keputusan yang telah kuambil dalam hidupku.   

Apakah aku menyesal menjadi seorang istri? Tidak.

Aku bersyukur tidak habis-habisnya bahwa aku bisa menjalani hari-hariku bersama orang yang kucintai dan dia mencintaiku.

Seseorang yang memberikan namanya untuk aku sandang dan menafkahiku lahir batin. Aku percaya, kami berdua saling mempengaruhi dan melengkapi satu sama lain, hingga menjadi diri kami saat ini. 

Pekerjaan suamiku membuat kami harus berpindah dan menetap di beberapa kota berbeda. Ini membuatku mengenal kehidupan dan kebudayaan lain selain tanah kelahiranku. Ini adalah keinginanku menjadi isterinya.   

Apakah aku menyesal melepaskan pekerjaanku sebagai seorang guru demi mengikuti suami dan membesarkan anak-anakku? Tidak.

Aku bisa mengikuti perkembangan anak-anak melalui fase-fase hidupnya. Itu adalah sebuah anugerah.

Bagaimana aku bisa mendengar kata pertama yang mereka ucapkan, melihat gigi pertama mereka tumbuh, berada di samping mereka ketika mereka sakit dan saat mereka membutuhkan pelukan.

Tak ada yang dapat menggantikan momen-momen itu. Tak akan pernah terulang.  

Apakah studi yang aku tempuh sia-sia? Tidak.

Kasih sayang seorang ibu adalah sebuah naluri. Tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaimana menjadi seorang ibu yang baik.

Namun pengetahuan dan kedewasaan mentalku yang diperoleh selama masa pendidikan, memiliki andil terhadap caraku memberi pengertian dan mendidik kedua anakku. 

Apakah hidupku menjadi tidak berarti bagi banyak orang? Pikiran yang salah.

Sekolah karakter pertama adalah  rumah. Dari rumah segalanya bermula. Buat apa berarti bagi orang lain sementara kita seolah tidak berarti bagi suami dan anak-anak?

Ibarat hidup serupa jejeran kartu domino yang disusun berjejer. Kartu-kartu domino yang aku sentuh akan menjatuhkan kartu-kartu di depannya. Ini merepresentasikan suami, anak-anak  dan orang-orang yang mereka temui.

Ketika kasihku menyentuh suami dan anak-anakku, mereka akan membagi kasih itu menjadi kebaikan di luar, di kantor dan sekolah mereka juga pada semua yang mereka temui.

Orang-orang yang mendapatkan kebaikan dari suami dan anak-anakku akan meneruskannya kepada orang lain yang  mereka temui selanjutnya. And the gift goes on.

Siapa bilang aku tidak berarti bagi banyak orang?

Apakah aku terkekang dan tidak merdeka? Aku merdeka menjadi diriku sendiri di dalam rumahku.

Kehidupan sehari-hari di rumah ini seutuhnya adalah kebijakanku. Aku menikmati kesibukanku menemani anak-anak belajar, bermain, menjadi tempat mereka mengadu dan mencari saran.

Aku menikmati peranku menjadi seseorang untuk suamiku yang menceritakan hal-hal yang tak bisa diceritakannya di luar.

Aku menikmati caraku mengatur rumah dan mengatur keuangan.

Aku menikmati caraku memilih menu makan kami sepanjang hari.

Dan aku merdeka menikmati waktu luangku menjadi diriku sendiri.

Pada akhirnya, suami dan anak-anakku yang mendorongku menekuni hobi dan kecintaanku yakni menulis.

Aku harap, sahabat-sahabatku membaca tulisanku ini.

Aku bahagia dan merdeka menjadi diriku.

Penulis: Yuliani Kumudaswari, lahir di Bandung dan saat ini menetap di Semarang bersama suami dan  dua orang putri. Sebagai ibu rumah tangga, Yuliani aktif menulis puisi dan cerpen yang beberapa di antaranya tergabung dalam sejumlah antologi. Antologi Puisi Tunggal  terbaru “Kembang Belukar” (Tonggak Pustaka, Jogja  2021). Email : kumudaswariyuliani@gmail.com.

Senyumku Sudah Sempurna

Wanita dan kecantikan adalah dua hal yang sudah biasa disandingkan. Walaupun demikian, sampai saat ini belum ada definisi kecantikan yang bisa disetujui oleh semua orang, terutama oleh kaum wanita itu sendiri.

Definisi cantik paling mendasar adalah soal kecantikan fisik. Hal ini tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan kecantikan fisik adalah penting walaupun itu bukan hal yang utama.

Kecantikan fisik terbentuk dari berbagai komponen. Salah satunya adalah yang membentuk wajah seseorang, termasuk sebuah senyuman.

Sebagai klinisi dokter gigi yang bertugas merawat salah satu aset itu selama kurang lebih hampir lima tahun, saya cukup sering dibuat lama merenung.

Renungan akan sebuah arti kecantikan senyuman itu tidak pernah terlepas dari pengalaman saya bertemu dengan banyak pasien wanita. Mereka semua memiliki banyak pendapat akan parameter dan makna dari sebuah kecantikan senyuman.

Cantik itu kosmetik, tidak hanya estetik. Saya rasa itu adalah salah satu parameter yang mungkin hampir disetujui oleh sebagian besar orang. Konsep estetika dalam profesi saya akan memiliki makna yang berbeda dengan konsep kosmetika.

Senyum wanita dengan gigi depan yang lengkap dan sehat akan terlihat lebih cantik dibandingkan senyum wanita dengan gigi depan yang berlubang. Namun, sudah menjadi sifat dasar manusia bahwa manusia selalu memiliki keinginan yang sempurna, selalu tidak puas dengan kondisi yang ada.

Jika ada yang lebih putih, bentuk yang lebih bagus, susunan yang lebih rapi, mengapa tidak? Dari sini lahirlah sebuah konsep bernama kosmetika, bukan hanya soal estetika semata.

Cantik itu mahal. Sebuah pernyataan yang terdengar sangat klise, tetapi nyata adanya. Jika ingin mendapatkan konsep cantik dari segi kosmetika, maka tak jarang bagi para wanita untuk rela berkorban menghabiskan uang yang tak sedikit.

Perawatan gigi dan mulut tak akan cukup membutuhkan uang yang hanya ratusan ribu. Jika para wanita ini menginginkan kesempurnaan senyum, uang jutaan hingga ratusan juta wajib tersedia untuk membayar segala kebutuhan jasa perawatan gigi.

Hal ini menyebabkan timbulnya sebuah kesenjangan bahwa cantik hanya milik wanita yang mampu membayar.     

Ada sebuah fenomena menarik yang terjadi di negara saya. Definisi kecantikan senyum ini menjadi lahan basah tersendiri bagi para oknum yang tidak bertanggung jawab.

Kosmetik sebuah senyuman bukanlah milik profesi dokter gigi semata, tetapi banyak sekali praktisi ilegal yang ikut meramaikan penawaran jasa mulai dari tukang gigi keliling, tukang gigi praktik, salon gigi, jasa panggilan hingga praktik dokter gigi palsu sudah menjadi profesi yang menjamur di tanah merah putih ini.

Belum banyak masyarakat yang memahami hal ini, termasuk para pemegang kebijakan di tanah air ini. Belum adanya ketegasan sanksi dan pengawasan yang ketat membuat praktik ilegal yang terselenggara seolah sudah menjadi hal yang legal dan biasa.

Saya sering berpikir, mengapa sebenarnya bisa demikian?

Urusan senyum dan kosmetikanya ini memang tidak menimbulkan bahaya yang besar dan masif. Ya, tidak seperti halnya urusan perdukunan bayi yang mampu menghilangkan sebuah nyawa dalam sekejap, jika dilakukan secara keliru dalam hal standar prosedur medis.

Urusan pergigian ini mungkin akan berdampak jangka panjang kelak, dampak yang merusak bahkan bisa mengancam nyawa. Hal inilah yang menyebabkan urusan pergigian ini masih menjadi anak tiri bagi para pemegang kebijakan kesehatan di negara saya.

Banyak pasien korban layanan kosmetika senyum abal-abal ini yang tidak bisa berbuat apa-apa setelah menerima dampaknya. Mereka pada awalnya akan sangat bangga dengan warna putih cemerlang yang didapat dari veneer salon gigi secara instan dengan harga murah.

Namun, beberapa minggu atau bulan setelahnya, mereka akan datang ke dokter gigi karena gusinya bernanah. Tak ada pilihan lain, selain harus menerima kerusakan permanen senyum yang awalnya indah natural menjadi cacat permanen.

Gigi depan sudah pasti rusak tak bisa dikembalikan lagi atau mungkin harus dicabut. Keindahan senyum yang sejatinya sudah ada akan lenyap dalam sekejap, hanya karena mengejar sebuah kesempurnaan.

Urusan praktik ilegal ini adalah urusan yang begitu panjang. Banyak perjuangan yang memang harus dilakukan, khususnya diawali dari profesi dokter gigi di negara ini. Walaupun demikian, tidak berarti tidak ada sama sekali yang bisa dilakukan.

Saya sebagai bagian kecil dari profesi ini, memilih berjuang untuk terus mengedukasi pada para pasien yang saya temui. Saya, seorang dokter gigi wanita yang selalu bersuara, bahwa memiliki estetika senyum itu jauh lebih berharga daripada sibuk dengan kosmetika senyum.

Jika Anda tidak mampu meraih sesuatu yang lebih sempurna maka cukupkan saja mensyukuri senyum sehat dan bersih yang sudah Anda miliki.   

Penulis: Nama lengkap saya Aulia Rizqi Nurdiana, biasa menulis dengan nama pena Aulia Gerimis. Pekerjaan sebagai dokter gigi dan sangat cinta dengan dunia literasi. Besar dan lahir di keluarga Jawa dan sangat kagum pada sosok Kartini.

Kiprah Advokat Perempuan

Advokat adalah profesi terhormat (officium nobile). Menyandang posisi ini, seorang advokat memiliki kewajiban mulia dalam melaksanakan pekerjaannya, berperilaku terhormat (honorable), murah hati (generous),  dan bertanggung jawab (responsible).

Meski tak bisa dipungkiri di lapangan ditengarai ada beberapa Advokat yang menghalalkan segala cara dalam membela kliennya seperti terlibat mafia hukum, merekayasa kasus/alat bukti  hingga menyogok penegak hukum.

Tak mudah bagi perempuan menjalani profesi sebagai Advokat.

Namun menjadi Advokat adalah pilihanku. Sebagai Advokat perempuan, aku tak luput sasaran hujatan dan tekanan. Kerap menghadapi benturan.

Aku bahkan mengalami teror dan intimidasi melalui sms, ucapan atau sindiran dari massa yang dibawa oleh lawan klien yang berseberangan di persidangan.

Acap kali aku harus menghadapi sikap arogan dari  aparat penegak hukum, baik polisi, jaksa, maupun hakim.  Semua itu tidak menyiutkan  nyali, malah semakin teruji. Seperti saat aku menangani kasus-kasus berbau politik, ada nuansa SARA atau HAM di situ.

Menghadapi  situasi yang sulit ini, sering aku berpikir, semenantang inikah medan yang harus dilalui perempuan sebagai Advokat ?  

Jika laki-laki yang berprofesi Advokat, akankah  bagi mereka situasi ini tidak dirasakan sebagai hal yang berat ?

Lingkungan dan atmosfer  profesi yang menempa diriku  menjadi kritis, tegar, tangguh dan mandiri. Aku harus memiliki emosi yang stabil.

Dengan kata lain, aku harus manage emosi, percaya diri, menghilangkan rasa takut dan cemas, meski jujur sebagai manusia pasti memiliki rasa takut, khawatir dan cemas.

Pada tahun 2005-2006, saat masih “nyantri” di Advokat Senior Trimoelja D. Soerjadi, aku dipercaya  menangani kasus Pilkada. Masa itu belum ada Mahkamah Konstitusi di sebuah Pengadilan yang berada di daerah Pantura.

Selaku kuasa hukum dari Diknas (Dinas Pendidikan)  dan KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah), kami melawan pasangan bacalon Pilkada yang tidak lolos verifikasi. Perkara ini bagiku bukan perkara biasa karena kental dengan nuansa politik, pertarungan calon antar partai politik dan masa pendukungnya.

Saat bersidang menangani kasus tersebut, aku mengalami kekerasan psikis berupa hujatan, cemohan, teror melalui sms.

Mentalku berusaha dijatuhkan oleh mereka karena saat itu aku adalah Advokat dari Surabaya yang baru saja bergabung di Tim Penasihat Hukum yang sudah terbentuk  sebelumnya.

Ketika memasuki ruangan sidang, aku mendapatkan tepukan tangan, suara riuh, dan cemohan. Kerap kali ketika aku sedang bertanya kepada saksi yang dihadirkan oleh kuasa penggugat (pasangan bacalon), mereka meneriaki “Huhhhhh” dan membuat kegaduhan dengan maksud memecah konsentrasiku.

Aku tidak terpancing. Semakin aku mengalami teror dan tekanan, aku justru semakin tertantang.

Di sini kualitasku sebagai Advokat yang mampu menjalankan profesi secara profesional dan bermartabat benar-benar diuji.

Tidak cukup itu, dalam perkara yang sama, aku diminta keluar dari ruang sidang oleh Ketua Majelis Hakim. Sebelumnya terjadi perdebatan sengit, ketika aku berusaha mempertahankan prinsip hukum yang benar yang aku percayai dan aku pegang.

Ketua Majelis Hakim  dengan arogan dan sinis berkata, “Hak saudara mempertahankan prinsip yang Anda anut dan yakini, tetapi di sini di ruang sidang ini, saya berkuasa dan memiliki kekuasaan. Silakan Anda keluar dari ruang sidang ini jika Anda tidak memenuhi apa yang saya perintahkan.”

Dengan suara  lantang, aku disambut sorak sorai dan teriakan dari masa pendukung lawan klien. Sebagai catatan, hakim yang mengusirku dari ruang sidang adalah seorang perempuan.  

Karena telah diusir, aku harus berdiri dari tempat duduk dan keluar melalui kerumunan massa yang memenuhi ruangan sidang.

Melihat aku diminta keluar dari ruangan sidang, dua kolegaku  yang adalah Advokat laki-laki, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka hanya diam membisu dan tak melakukan apa-apa.

Secara kolegial, jika salah satu tim penasihat hukum diminta keluar oleh Ketua Majelis Hakim maka mereka pun seharusnya juga ikut keluar dari ruangan sidang.

Pada saat agenda pembuktian yakni pemeriksaan saksi-saksi, sekali lagi aku diuji. Dua kolegaku diam membisu, tak satu pun pertanyaan keluar dari mulut mereka.

Secara spontan, aku menulis dalam secarik kertas. Aku berikan daftar pertanyaan yang belum aku tanyakan kepada kolegaku yang berada tepat di sampingku.

Aku ingin dia juga bertanya kepada saksi yang dihadirkan oleh kuasa lawan. Umpanku berhasil, meski itu terlihat dia terpaksa melakukannya.

Satu hal lagi, saat menjadi  Advokat Perempuan, aku harus bisa bersikap terhadap pandangan sinis yang merendahkan.

Ah perempuan, paling-paling kalau kepepet bisanya hanya menangis, merayu, atau merajuk.

Aku pastikan bahwa pandangan miring itu tidak berlaku pada diriku.

Aku mampu bekerja secara profesional, mandiri, tangguh,  bermartabat, dan berintegritas berkat didikan, gemblengan dan teladan dari seniorku selama aku bekerja dengan beliau.

Penulis: Nur Badriyah adalah seorang Advokat yang menyukai heritage, traveling, koleksi pensil, bros dan souvenir menarik. Dia senang membuat kue, cake, roti, dan camilan di luar kesibukannya berkutat dengan persoalan hukum di Pengadilan. Nur aktif menulis buku keempatnya. Karyanya yang sudah diterbitkan adalah Antologi Essay HIIB “Single Fighter Woman” 2018,  HIIB Dear Ayah “ Lelaki Pertamaku” 2019, Antologi Essay Jejak Kehidupan “Ketika Hidup dalam Titik Terendah” 2021. Ia bisa dihubungi melalui akun Facebook Nur Badriyah, akun Instagram nurbadriyah atau Email : noer_badriyah@yahoo.com.

Berdaya Untuk Merdeka

Pernikahan merupakan pintu gerbang menuju fase kehidupan berikutnya. Kebahagiaan menjadi tujuannya. Banyak faktor menentukan untuk bisa mencapainya antara lain kepribadian, pola asuh, dan latar belakang sosial dari setiap pasangan.

Riak-riak kecil hingga konflik besar tentunya menghampiri setiap rumah tangga. Solusi diharapkan hadir hingga didapatkan pelajaran dan pendewasaan untuk keberlangsungan mahligai rumah tangga selanjutnya. Sayangnya tidak semua seperti itu, banyak juga yang berujung pada kekerasan.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan tindakan dalam rumah  yang mengakibatkan penderitaan fisik maupun mental bagi orang lain yang tinggal satu rumah.

Siapa yang paling menderita?

Perempuan dan anak karena mereka dianggap tak mampu melawan.

Apakah KDRT hanya berupa penganiayaan fisik?

Tentu tidak, KDRT dapat berwujud kekerasan fisik, psikologis, seksual, maupun ekonomi.

Tutup Mulut

Banyak kasus KDRT tidak terungkap. Tidak sedikit korban yang memilih bungkam dan tetap menjalani kehidupan bersama pelaku. Mereka tahu penderitaannya akan terus berulang dan menjadi lingkaran setan.

Apa penyebabnya?

Mayoritas korban takut dan tidak berdaya untuk mengungkapkan kejadian yang menimpanya. Hal ini sangat wajar mengingat para korban KDRT sering diisolir dari sekitar oleh para pelakunya.

Atas segala kekerasan yang menimpanya, tanpa disadari telah tertanam di pikiran korban bahwa dirinya tak mampu.

Tidak semua orang di sekeliling korban peduli dan percaya atas apa yang menimpa korbannya. Bahkan korban diberi stigma, dianggap salah karena membuka aib keluarganya.

Belum lagi masyarakat dengan pikiran konvensional menganggap KDRT itu hal wajar dalam berumah tangga.

Faktor pengetahuan juga berperan terhadap pelaporannya. Sebagian korban tidak tahu harus melapor ke mana dan bukti apa saja yang harus mereka kumpulkan.

Kendala bahasa juga melanda para korban yang tinggal di negara asing atau tempat yang jauh dari kelahirannya. Itu semua membuat KDRT tumbuh subur layaknya fenomena gunung es.

Pelakunya pun tetap berada di zona nyaman.

Membekas Lama

Baik terungkap maupun tidak, dampak KDRT selalu tidak ringan bagi para korbannya. Perlu waktu yang lama dan proses yang panjang untuk menyembuhkannya.

Korban sering merasa sangat sedih, kehilangan, sakit, dikhianati, sendirian, tidak berharga, dan rasa percaya dirinya hancur.

Pemulihan bagi para korban dapat dilakukan perlahan, jadi jangan memaksakan penyembuhan terlalu cepat. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengakhiri hubungan dan menjauh dari kehidupan pelaku untuk menghindari penderitaan berulang.

Selanjutnya korban bisa membangun kehidupan baru dan berhak meraih masa depan yang lebih baik. Perubahan pola hidup dapat bisa menjadi pilihan, namun jika korban butuh waktu tenang sejenak tanpa perubahan juga tidak masalah.

Bangkit dari Reruntuhan

Perubahan besar hidup dapat dimulai dengan berpindah tempat tinggal dan mengubah pola/gaya hidup. Dengan demikian suasana baru muncul dan perlahan menghapus memori pahit para korban. Tentunya tempat tinggal baru yang dipilih memenuhi syarat keamanan yang melindungi korban dari pelaku.

Korban KDRT sering merasa sendirian dan terisolir karena sebelumnya si pelaku memutus hubungan korban dari keluarga atau temannya. Untuk mengatasinya, korban dapat mengontak kembali teman lama atau keluarga mereka atau bahkan mencari kenalan baru.

Komunitas yang memberi energi positif dan suasana kondusif sangat diperlukan korban untuk bangkit, misalnya komunitas perempuan penyintas KDRT.

Di dalam komunitas ini setidaknya mereka dapat saling berbagi cerita dan bertukar pikiran tentang pengalaman dan cara bertahan hidup. Bergabung dengan organisasi lokal yang melindungi anak dan perempuan juga bisa menjadi pilihan.

Harga diri yang rendah juga masalah yang perlu diatasi pada perempuan korban KDRT. Sebelum meraih kembali harga diri, para korban harus menyadari betapa pentingnya mencintai diri mereka dan mengetahui bahwa kehadiran mereka berarti.

Para perempuan ini perlu memberi waktu dan ruang untuk dirinya sendiri setiap harinya. Memberikan penghargaan terhadap dirinya atas segala pencapaian sekecil apapun itu. Melakukan aktivitas yang disukai seperti berolahraga dan relaksasi, menulis, membaca, atau memasak.

Rasa percaya diri penting untuk dipulihkan pada korban KDRT.

Korban perlu diingatkan kembali prestasi atau capaian apapun yang pernah diraihnya dalam hidup. Identifikasi potensi dan kekuatan yang dimiliki dapat membantu korban menemukan kembali jati diri.

Tentunya hal ini dilakukan di tengah komunitas tepat yang penuh dukungan.

Perempuan korban KDRT juga harus memiliki semangat melanjutkan hidup, harapan dan cita yang realistis untuk masa depannya. Untuk mencapainya, mereka hanya perlu fokus pada jalannya tanpa memedulikan hal yang dipikirkan orang.

Mereka harus menutup telinga atas komentar destruktif sekelilingnya. Memiliki pekerjaan, mengembangkan potensi diri, memelajari keterampilan baru, menempuh berbagai kursus dan studi dapat membantu para perempuan berdaya dalam menentukan masa depannya.

Penulis: Afiarina Dhevianty adalah seorang dokter spesialis anak dan konselor menyusui. Single Mom dari seorang bidadari kecil dan survivor KDRT. Dia mencintai dunia anak-anak dan menulis. Senang  menginspirasi sekelilingnya. Penulis buku Strong Single Mom dan Buku Pintar Perempuan. Dapat dijumpai di Instagram: wonderful_mums atau facebook: Afiarina Dhevianty.

Perempuan Berkarakter dan Memenuhi Sebuah Panggilan Melayani

“Perempuan adalah bumi, yang menumbuhkan padi dan singkong, tetapi juga yang akhirnya memeluk jenazah-jenazah manusia yang pernah dikandungnya dan disusuinya.” (Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Rantau)

Tulisan ini menceritakan tentang seorang Kepala Sekolah yang sangat legendaris, dari sebuah sekolah perempuan yang terletak di Jakarta Pusat, Santa Ursula. Ia adalah Suster Francesco Marianti, OSU, biarawati dari Ordo Ursulin yang kiprahnya sebagai pendidik mewarnai hidup 6000 remaja putri.

Sr. Francesco turut membentuk identitas ribuan remaja perempuan di usia rentan dalam proses pencarian identitas diri. Sr. Francesco menyadari betul pentingnya mendidik perempuan belia yang kerap kali bingung menjawab pertanyaan, “Siapakah saya?”.

Sr. Francesco percaya bahwa pendidikan di masa yang rapuh, di usia 15-18 tahun adalah hal yang sangat penting dalam menentukan masa depan perempuan. Dia percaya dengan filosofi yang dianut oleh Aristoteles “educating the mind without educating the heart is no education at all”.

Beliau pernah berkata, “Saya lebih bangga mencetak anak yang tidak hebat-hebat amat tapi peduli terhadap orang lain; daripada mencetak anak yang hebat otaknya tapi hanya peduli terhadap nasibnya sendiri” (Fikir Catatan Seorang Pendidik, 2002: 52).

Melalui program Reading and Writing, beliau mengajak anak-anak didiknya untuk sejenak mengalami kehidupan ‘orang lain’ yang terpinggirkan, seperti menjadi pengamen jalanan, pedagang kaki lima, atau mengamati kehidupan pekerja seks komersil (PSK), dan buruh perempuan.

Pengalaman menjalani hidup mereka yang termarginalisasi secara ekonomi, sosial, dan politik ini mengajarkan para gadis remaja ini untuk melihat manusia dari perspektif yang berbeda.

Tidak memoles orang lain dengan warna hitam putih, namun melihat mereka dengan kesadaran baru dan empati. Bahwa mereka yang tertindas dan terlupakan juga manusia yang hendaknya diperlakukan layaknya manusia.

Menurut saya, ini merupakan nilai yang paling berharga dari perempuan.

Fikir

Setiap murid Santa Ursula yang pernah dididik beliau pasti pernah melihat papan kecil kayu berukuran 5 x 20 cm bertuliskan “Fikir” di meja kerja Sr. Francesco.

Papan kecil ini membuat setiap murid yang akan menghadapnya harus berpikir keras tentang apa yang sebaiknya dikatakan dan pertanyaan-pertanyaan apa yang mungkin akan beliau ajukan.

Seringkali sambil menunjuk ke papan kecil itu beliau bertanya, “Sudah kamu pikirkan matang-matang?”

Rupanya hal ini berkesan bagi para siswi, bahkan sampai lulus dari SMA Santa Ursula kami masih mengingat tentang papan Fikir ini.

Melalui papan kecil dan pertanyaan singkat namun mendalam itu, Suster Francesco mendidik para gadis muda belia tentang pentingnya berpikir jernih dan menyeluruh sebelum mengambil sebuah keputusan, termasuk memikirkan apakah sanggup menanggung semua konsekuensi dari keputusannya.

Sr. Francesco pernah mengatakan, “…banyak hal yang sebetulnya bisa menjadi lebih baik atau berkualitas apabila manusia tidak terlalu cepat berbicara…”

Berpikir, menurut beliau, melambangkan kebebasan manusia, seperti yang dilukiskan oleh penyair favoritnya, Kahlil Gibran: “…you may chain my hands and shackle my feet, you may even throw me into a dark prison, but you shall not enslave my thinking because it is free…” (Fikir Catatan Seorang Pendidik, 2002).

Perempuan seharusnya mampu bernalar, berpikir kritis, dan berani berpendapat, meskipun pendapatnya sungguh menentang arus.

Kesaktian perempuan juga terletak pada wataknya. Perempuan mempunyai prinsip yang jelas, tahu apa yang dia mau dan apa yang dituju, berani menjalani proses dalam mencapai tujuan, dan tidak mudah patah di tengah jalan.

Suatu hari beliau mengumpulkan anak-anak yang terpilih dalam program kepimpinan yang disebut Prakar (dari kata pra-kaderisasi). Beliau bertanya kepada Ketua Prakar tentang mengapa ia sering terlambat datang ke sekolah sehingga akhirnya mengalami penurunan nilai pelajaran.

Sang siswi menjelaskan bahwa hal itu disebabkan karena jarak rumah yang jauh dari sekolah dan karena kesibukannya mengurus adik-adiknya sebelum berangkat ke sekolah.

Ternyata beliau tidak marah, ia justru berkata, “Saya lebih bangga dengan murid yang nilainya biasa-biasa saja tapi punya tanggungjawab. Kamu dengan berbagai tanggungjawabmu masih bisa memperoleh nilai yang cukup bagus, itu luar biasa…”

Dari peristiwa ini saya belajar bahwa kekuatan perempuan terletak pula pada pengalamannya dalam merawat hal-hal yang tampaknya biasa atau remeh-temeh.

Namun jika dilihat dari cakrawala yang lebih luas, sejatinya adalah tindakan meletakkan batu bata kehidupan, satu persatu, sehingga terciptalah sebuah menara kehidupan manusia yang utuh.

Esensi perempuan merdeka adalah perempuan yang cerdas, berwatak, dan melayani sesama.

Penulis: Stephanie Iriana Pasaribu adalah kandidat PhD dari Universitas Groningen di Belanda. Ia percaya akan kekuatan menulis dan menggagumi penulis-penulis seperti Pramoedya Ananta Toer, Albert Camus, Anthony de Mello, Maya Angelou, dan Soren Kierkegaard. Buku pertamanya adalah, “Derita Cinta Tak Terbalas” yang adalah hasil dari skripsinya di bidang Psikologi. Stephanie mempunyai kegemaran membaca, menulis, berenang, dan traveling.

Cyberfeminism dan Kisah Perempuan-perempuan yang Terbelenggu oleh Media Digital

Cyberfeminism adalah sebuah istilah yang muncul seiring dengan kemajauan teknologi informasi dan komunikasi berbasis internet dalam dua dekade terakhir ini.

Istilah ini menjadi semakin populer seiring dengan semakin meluasnya gerakan feminis dengan agenda utamanya yaitu mengusung perjuangan kesetaraan, keadilan dan pemberdayaan perempuan melalui jalur cyberspace (internet).

Keberadaan cyberspace ini sangat memungkinkan bagi perempuan untuk mengekspresikan pemikirnya, perasaannya, identitasnya, eksistensinya dan segala hal tentang kediriannya di ruang publik.

Singkatnya, cyberfeminism merupakan gerakan, pendekatan, metode atau strategi yang dipakai sebagai alat perjuangan untuk  mengampanyekan  kebebasan, kesetaraan, keadilan, kemerdekaan bagi perempuan melalui dunia cyber.

Belakangan ini isu child-free sedang ramai dibicarakan setelah seorang artis dan influencer di Indonesia yang menyatakan pilihannya untuk tidak memiliki anak (child-free).

Sontak hal ini  membuat mayoritas netizen yang belum terbiasa dengan perbedaan pendapat ataupun tidak siap dengan hal-hal di luar “normativity”  menghujat dan mem-bully atas pilihan tersebut. Hal itu lengkap dengan dalil agama, dalil sekulerisme, maupun dalil-dalil subjektivitasnya sendiri.

Namun demikian tidak sedikit pula kelompok aktivis perempuan, penulis perempuan, influencer, akademisi, bahkan “Ning” dan ‘Nyai” perempuan ikut bersuara.

Mereka membeberkan segala realitas, rasionalitas dan penjelasan mentalitas atas pilihan yang dianggap menyalahi  sistem normativitas  masyarakat yang sudah sejak lama mengakar dan mendarah daging.

Pola pikir yang terhegemoni

Sebagai perempuan yang lahir dan tumbuh besar dalam sistem dan kultur patriaki yang hakiki, pola pikir kita sering terjebak atau bahkan meng-aminkan “konstruksi baku” yang menempatkan laki-laki diatas perempuan.

Bahwa laki-laki harus maskulin lengkap dengan segala sikap dan sifat kelelakian yang dilekatkanya, sementara perempuan juga harus feminin lengkap dengan sederet tuntuan, sikap, sifat dan “takdir” yang dilekatkan padanya.

Akibatnya, saat ada perempuan yang dianggap “keluar” dari norma yang sudah “dibakukan” tersebut, otomatis menjadi bulan-bulanan dan sasaran pem-bully-an bahkan oleh kelompoknya sendiri.

Hegemoni yang kuat dan mengakar ini kemudian juga sebenarnya “menjajah” perempuan, karena perempuan menjadi takut dan merasa insecure jika mengambil “jalan yang berbeda”.

Self-healing dan kebebasan beraktualisasi

Di tengah beratnya menjalani peran keperempuanannya, setiap perempuan berhak berekspresi tanpa harus merasa insecure.

Perempuan tidak harus bertanggungjawab kepada siapapun untuk menjelaskan apapun pilihan dan ekspresinya dimulai dari hal-hal yang sepele saja dulu, tidak harus tentang  keputusan besar seperti  menikah atau tidak, mempunyai anak atau tidak, dan seterusnya.

Tetapi, dimulai dari self expression saja itu sudah luar biasa.

Bagaimana bisa merdeka dalam wilayah-wilayah yang lebih besar dan luas jika area “kediriannya” saja masih terbelenggu oleh rasa ketakutan, kekahawatiran akan di nyiyirin, di-bully, dianggap sombong, dianggp lebay, dianggap norak dan sebagainya.

Bagaimanapun juga, setiap individu apapun gendernya mempunyai cara sendiri dalam berekspresi.

Bentuk ekspresi tersebut bisa jadi adalah upaya self healing seseorang, sebagai penawar dan penghibur bagi diri, di tengah kerasnya pergulatan dan drama kehidupan.

Membangun Komunitas Cyberfeminist

Oleh karena itu, membangun komunitas-komunitas perempuan yang merdeka dan berdaya menjadi sebuah keniscayaan untuk membuka jalan bagi semua perempuan agar lebih merdeka dalam berekpresi dan beraktualisasi.

Syukur-syukur bisa berkarya atau berkreasi sehingga mampu menginspirasi.

Komunitas cyberfeminist ini tentu saja tidak hanya sebagai tempat untuk berjejaring, namun jauh daripada itu.

Komunitas-komunitas ini diharapkan dapat menggetarkan nurani perempuan untuk tampil lebih percaya diri, berani keluar dari normatifitas, atau bahkan membuat setiap perempuan lebih sadar bahwa dirinya kuat, tangguh, tidak sendiri, dan sangat berharga.

Penulis: Zakiya Mufida, Ibu dengan tiga anak, sempat terjebak antara dua budaya yang berbeda, Jawa dan Madura. Dosen dan peneliti di Universitas Trunojoyo Madura. Berminat pada kajian budaya, gender dan seksualitas. Zakiya aktif menulis artikel di jurnal ilmiah dan menjadi presenter di seminar akademik baik lokal, nasional maupun internasional. Saat ini dia sedang menempa potensi diri untuk lebih produktif menulis essay atau artikel populer. Dia bisa dijangkau di akun media sosial Instagram zakiyatulmufidahahmad.

Dari C Mayor Menjadi A Minor

Sedari kecil, saya selalu berada dalam lingkungan yang mayoritas dan merasa baik-baik saja. Dunia itu indah dan semua orang adalah orang baik kecuali saat saya beradaptasi dengan dunia baru di taman kanak-kanak. Selebihnya saya melenggang dalam proses belajar yang mudah, banyak teman, dan bahagia hingga di bangku SMA.

Saya selalu bersekolah di sekolah negeri. Saya berteman dengan siapa saja meski saya berada dalam kumpulan anggota yang mendominasi hampir semua kegiatan. Bisa dikatakan, dalam bahasa musikal hidup saya selalu berada di chord C mayor.

Cerita berubah ketika saya harus kuliah dan tidak berhasil masuk ke perguruan tinggi negeri. Orangtua menyuruh saya masuk ke satu perguruan tinggi swasta dengan alasan sederhana yang menjengkelkan. Lokasinya dekat dengan rumah Eyang sehingga saya bisa tinggal di sana.

Ternyata, keputusan untuk menuruti keinginan orangtua memberikan satu dunia baru yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Keberadaan saya di sana yang tadinya terasa sangat salah, pada akhirnya menjadi pintu pembuka perjalanan yang tak terlupakan dan sangat berarti hingga kini.

Universitas swasta di Surabaya yang saya masuki ini memiliki mahasiswa yang mayoritas adalah warga keturunan Tionghoa. Tiba-tiba saja, saya seorang Jawa tulen ini menjadi kaum minoritas di sebuah dunia baru.

Karena ini merupakan universitas berbasis agama Kristen, maka saya terkaget-kaget dengan berbagai macam ajaran Kristen dan  ibadah kebaktian yang wajib diikuti di tahun pertama.

Sebenarnya saya tidak bermasalah dengan perbedaan suku dan agama. Saya sempat oleng juga setelah saya tumbuh di kehidupan digdaya sebagai bagian dari kelompok mayoritas secara suku dan agama.

Saya memiliki banyak sahabat yang berbeda agama dan dari keturunan Tionghoa. Itulah mengapa saya tidak merasa berat ketika didaftarkan masuk ke sana.

Hanya saja, saya tidak pernah saya membayangkan keadaannya akan menjadi semasif itu. Di semester pertama saya sempat terombang-ambing akan keputusan untuk mundur, tetapi saya lalu bertekad untuk maju terus. Saya teringat banyaknya uang yang sudah dikeluarkan. Tentu saja waktu terbuang percuma bila saya harus mengulang dari awal.

Tekad kuat pun diluruskan.

Perlahan-lahan, saya menemukan diri ini kembali. Persahabatan terjalin dengan teman dari seluruh penjuru Indonesia, dengan berbagai agama dan kepercayaan. Sembilan orang teman akrab yang beragam membuat hidup begitu kaya.

Ada yang dari Tanah Toraja dengan dialeknya yang khas, ada yang dari Banjar dengan bahasanya yang asing bagi saya, ada Jawa tulen yang sedari kecil hidup di Papua.

Bahkan enam orang anggota geng merupakan keturunan Tionghoa yang berasal dari berbagai kota: Solo, Malang, Medan, Probolinggo, dan asli Surabaya. Lima tahun bersama mereka membuat saya seakan berkeliling Indonesia dan mengenal berbagai keajaiban indah yang mereka ceritakan dari daerah asalnya masing-masing.

Saya menjadi tahu dan memahami perbedaan cara dan budaya teman keturunan Tionghoa yang tinggal di Jawa Timur, Jawa Tengah, Medan dan yang asli Suroboyo.

Saya belajar bahasa Banjar sekaligus bahasa Toraja dan Papua.

Saya menginap di rumah teman di Malang yang penuh dengan salib sementara saya diingatkan terus untuk salat lima waktu.

Berpuasa di antara mereka yang tidak, saya merasa malu sendiri. Mereka begitu menghormati, begitu memahami. Mereka mau menanti saya, yang satu-satunya muslim di antara sepuluh orang anggota gerombolan, menunaikan salat sebelum melanjutkan kegiatan kelompok.

Lulus dari sana, saya merasa sangat-sangat kaya. Saya merasa lebih penuh, siap menghadapi segala bentuk perbedaan dalam kehidupan. Bila bicara musik lagi, hidup saya setelahnya seperti dalam chord A minor yang nyaman, kuat, dan steady.

Dari hasil survei nasional terbaru dari PPIM UIN Jakarta dan Convey pada Maret 2021 lalu dinyatakan satu dari tiga mahasiswa memiliki tingkat toleransi beragama yang rendah atau sangat rendah, terutama di perguruan tinggi yang berbasis agama.

Ini membuat saya miris.

Apakah mahasiswa sekarang—pastinya tumbuh dengan ajaran orang tua mereka yang sekitaran saya—akan menjadi manusia yang tipis pita toleransinya dan hidup dengan hal itu?

Buat saya, pengalaman menjadi minoritas di bangku kuliah dulu membuat saya bisa menjunjung tinggi toleransi karena tahu di mana batas-batas itu harus diletakkan.

Itulah mengapa, saya sedih ketika banyak orang sering mempertajam perbedaan kesukuan dan agama yang tidak perlu.

Ketika saat ini dibutuhkan kesatuan Indonesia yang kuat dan tangguh, sudah seharusnya perbedaan itu disisihkan. Ada hal yang lebih penting untuk dipikirkan.

Semoga di luar sana akan semakin banyak yang bisa menerima bahwa memang perbedaan itu ada dalam kehidupan. Perbedaan itu hanya perlu dijalani bersama tanpa saling mengganggu.

Indonesia pasti akan pulih lebih cepat.

Penulis: Windy Effendy, ibu dari dua gadis yang tinggal di Surabaya. Lulus dari Teknik Arsitektur Universitas Kristen Petra, Surabaya, dan sempat menjadi assistant engineer di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang HVAC System. Dua belas tahun terakhir dihabiskan di depan kue-kue pesanan yang didesain personal, sebelum akhirnya kini berkutat dengan naskah dan penyuntingan sebagai sebuah jalan pulang kecintaannya pada bahasa.